REVIEW ON PHILOSOPHY, THEORY
AND PRACTICE OF DEVELOPMENTAL GUIDANCE AND COUNSELING
REVIEW ON PHILOSOPHY, THEORY
AND PRACTICE OF DEVELOPMENTAL GUIDANCE AND COUNSELING
Dalam memahami ilmu serta dasar – dasar Bimbingan dan Konseling harus terlebih dahulu memahami secara menyeluruh tentang semua aspek serta konsep mengenai Bimbingan dan Konseling, yang meliputi:
fungsi,
filosofi,
sasaran, serta
bidang jasa atau layanan mengenai Bimbingan dan Konseling.
Bimbingan dan Konseling atau guidance and counseling merupakan ilmu yang sistematis serta prosedural baik itu dalam pembelajaran maupun pemanfaatan serta praktik profesi konseling. Dan berarti bahwa Bimbingan dan Konseling adalah ilmu dalam pengarahan, pemahaman serta penuntunan bagi individu agar lebih baik, sehingga dalam prosesnya menghasilkan tugas dari pengembangan masyarakat, program–program pengembangan, serta kemampuan konseling dan intervensi terhadap individu.
Fungsi utama dari konselor sekolah adalah untuk membantu semua siswa dengan pertumbuhan (developmental) dalam pemahaman diri, mengembangkan interpersonal, pemecahan masalah, dan ketrampilan pengambilan keputusan dan kesadaran kerja.
Hal ini dicapai melalui bimbingan kelas, sesi kelompok besar dan kecil, dan konseling individual. Program ini dirancang untuk menjadi berurutan dan pencegahan (preventif) untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada siswa dalam mengembangkan dan menerapkan kompetensi demi keberhasilan akademis dan karier.
Program bimbingan dan konseling melayani mekanisme untuk membantu individu dengan resolusi permasalahan (krisis) yang menghambat perkembangan yang sehat dan prestasi akademik. Program bimbingan bertanggung jawab untuk membantu siswa dalam mengembangkan dan mempertahankan kemampuan yang dibutuhkan.
Devinisi Counseling
denotes a relationship between a trained helper and a person seeking help in wich both the skills of the helper and the atmosphere that he or she creates help people learn to relate with themselves and others in more growth producing ways
(menunjukkan hubungan antara penolong yang terlatih dan orang yang mencari bantuan di mana baik keterampilan penolong dan suasana yang ia ciptakan membantu orang belajar berhubungan dengan diri mereka sendiri dan cara lain pertumbuhan yang lebih produktif)
A. LANDASAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Landasan Filosofis
1.1 Makna dan Fungsi Prinsip-prinsip Filosofis Bimbingan Konseling
Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: Philos berarti cinta dan sophos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Pelayanan bimbingan dan konseling dalam landasan filosofis berarti memberikan pemikiran-pemikiran tentang hakikat dan tujuan hidup manusia dipandang dari perspektif filsafat untuk menemukan hakikat manusia secara utuh mengingat bimbingan konseling akan selalu berkaitan dengan manusia sebagai objeknya
Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa :
1) Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan,
2) Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
3) Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan
4) Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.
Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat John J. Pietrofesa et. al. dalam Fawzi (http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/12/14/) mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-prinsip filosofis dalam bimbingan sebagai berikut:
a. Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan harga diri individu dan hak-haknya untuk mendapat bantuannya.
b. Bimbingan merupakan proses yang berkeseimbangan
c. Bimbingan harus Respek terhadap hak-hak klien
d. Bimbingan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental
e. Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya
f. Bimbingan merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat individualisasi dan sosialisasi
1.2 Hakikat Manusia
a. B.F Skinner dan Watsan (Gerold Corey, Terjemahan E. Koeswara, 1988) dalam Fawzi. Mengemukakan tentang hakekat manusia:
a.1 Manusia dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama
a.2 Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budaya
a.3 Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari
a.4 Manusia tidak memiliki kemampuan untuk membentuk nasibnya sendiri
b.Virginia Satir (Dalam Thompson dan Rodolph, 1983 (http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/12/14/). Memandang bahwa manusia pada hakekatnya positif, Satir berkesimpulan bahwa pada setiap saat, dalam suasana apapun juga, manusia dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.
Upaya-upaya bimbingan dan konseling perlu didasarkan pada pemahaman tentang hakekat manusia agar upaya-upaya tersebut dapat lebih efektif.
B. Landasan Historis
1. Sekilas tentang sejarah bimbingan dan konseling
Secara umum, konsep bimbingan dan konseling telah lama dikenal manusia melalui sejarah. Sejarah tentang pengembangan potensi individu dapat ditelusuri dari masyarakat yunani kono. Mereka menekankan upaya-upaya untuk mengembangkan dan menguatkan individu melalui pendidikan.
Plato dipandang sebagan koselor Yunani Kuno karena dia telah menaruh perhatian besar terhadap masalah-masalah pemahaman psikologis individu seperti menyangkut aspek isu-isu moral, pendidikan, hubungan dalam masyarakat dan teologis.
2. Perkembangan Layanan Bimbingan di Amerika
Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru.
Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri. Tahun 1898 Jesse B. Bradley (John J.Pie Trafesa et. al., 1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut Stiller, yaitu sebagai berikut:
1) Vocational exploration : Tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran kerja
2) Metting Individual Needs : Tahapan yang menekankan membantu individu agar meeting memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Perkembangan BK pada tahapan ini dipengaruhi oleh diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
3) Transisional Professionalism : Tahapan yang memfokuskan perhatian kepada upaya profesionalisasi konselor
4) Situasional Diagnosis : Tahapan sebagai periode perubahan dan inovasi pada tahapan ini memfokuskan pada analisis lingkungan dalam proses bimbingan dan gerakan cara-cara yang hanya terpusat pada individu.
3. Perkembangan Layanan Bimbingan Di Indonesia
Dengan adanya gagasan sekolah pembangunan pada tahun 1970/1971, peranan bimbingan kembali mendapat perhatian. Gagasan sekolah pembangunan ini dituangkan dalam program sekolah menengah pembangunan persiapan, yang berupa proyek percobaan dan peralihan dari sistem persekolahan Cuma menjadi sekolah pembangunan.
Secara resmi BK di programkan disekolah sejak diberlakukan kurikulum 1975, tahun 1975 berdiri ikatan petugas bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang.
Penyempurnaan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir di dalamnya. Selanjutnya UU No. 0/1989 tentang Sisdiknas membuat mantap posisi bimbingan dan konseling yang kian diperkuat dengan PP No. 20 Bab X Pasal 25/1990 dan PP No. 29 Bab X Pal 27/1990 yang menyatakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
Perkembangan BK di Indonesia semakin mantap dengan berubahnya 1 PBI menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) tapa tahun 2001.
C. Landasan Religius
1. Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:
a. Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk tuhan
b. Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
c. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu
Landasan Religius berkenaan dengan :
2. Manusia sebagai Mahluk Tuhan
Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sisi-sisi kemanusiaan tersebut tdiak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal negatif. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan tersebut pada hal-hal positif.
3. Sikap Keberagamaan
Agama yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagamaan. Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan pada agama itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
4. Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi :
a. Memelihara fitrah
b. Memelihara jiwa
c. Memelihara akal
d. Memelihara keturunan
D. Landasan Psikologis
Landasan prikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menajadi sasaran (klien). Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku yang perlu diubah atau dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi
Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu dikuasai, yaitu tentang:
1. Motif dan motivasi
2. Pembawaan dasar dan lingkungan
3. Perkembangan individu
4. Belajar, balikan dan penguatan
5. Kepribadian
E. Landasan Sosial Budaya
Kebudayaan akan bimbingan timbul karena terdapat faktor yang menambah rumitnya keadaan masyarakat dimana individu itu hidup. Faktor-faktor tersebut seperti perubahan kontelasi keuangan, perkembagan pendidikan, dunia-dunia kerja, perkembangan komunikasi dll (Jonh), Pietrofesa dkk, 1980; M. Surya & Rochman N, 1986; dan Rocman N, 1987)
G. Landasan Pedagogis
Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial menurut Budi Santoso dalam Fawzi:
1. Pendidikan sebagai upaya pengembangan Individu: Bimbingan merupakan bentuk upaya pendidikan.
2. Pendidikan sebagai inti Proses Bimbingan Konseling.
Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klien-kliennya.
3. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan Bimbingan tujuan dan konseling
Tujuan Bimbingan dan Konseling disamping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya.
konseling psychotheraphy
konseling berurusan dengan orang normal kebanyakan psikoterapi terutama berkaitan dengan mereka yang secara psikologis terganggu
konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar, dan jangka pendek psikoterapi lebih rekonstructive, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan jangka panjang
konseling lebih terstruktur dan diarahkan terbatas, tuanya nyata tujuan psikoterapi ispurposely lebih ambigu dan memiliki bahwa perubahan dan berkembang sebagai pribadi kemajuan
Piaget teori perkembangan kognitif
Teori Piaget perkembangan kognitif adalah teori komprehensif tentang sifat ituberhubungan dengan sifat pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia datang secara bertahap untuk mendapatkannya, membangun, dan menggunakannya. Selain itu, Piaget mengklaim gagasan bahwa perkembangan kognitif adalah pusat dari organisme manusia dan bahasa bertumpu pada pengembangan kognitif.
Di bawah ini, ada penjelasan singkat pertama pandangan Piaget tentang sifat kecerdasan dan kemudian deskripsi tahap melalui yang berkembang hingga jatuh tempo.
Tahapan Pembangunan Sosial-Emosional Pada Anak dan Remaja
Halaman ini menyajikan gambaran umum tentang tugas-tugas pembangunan terlibat dalam pembangunan sosial dan emosional anak-anak dan remaja yang terus menjadi dewasa. Presentasi didasarkan pada Delapan Tahapan Pembangunan yang dikembangkan oleh psikiater, Erik Erikson pada tahun 1956.
Erikson Delapan Tahapan Pengembangan
1. Belajar Dasar Kepercayaan Versus Ketidakpercayaan Dasar (Harapan)
Anak, baik - ditangani, dipelihara, dan dicintai, mengembangkan kepercayaan dan keamanan dan optimisme yang dasar. Buruk ditangani, ia menjadi tidak aman dan curiga.
2. Belajar Otonomi Versus Shame (Will)
Pola asuh yang baik, anak muncul dari tahap yakin pada dirinya sendiri, gembira dengan kontrol yang baru ditemukan, dan bangga daripada malu.
Otonomi bukan, bagaimanapun, seluruhnya identik dengan meyakinkan diri - kepemilikan, inisiatif, dan kemerdekaan tetapi, setidaknya untuk anak-anak di bagian awal dari krisis psikososial, termasuk badai diri - akan, tantrum, keras kepala, dan negativisme. Misalnya, seseorang melihat
3. Belajar Inisiatif Versus Rasa Bersalah (Tujuan)
Erikson berpendapat bahwa krisis psikososial ketiga terjadi selama apa yang dia sebut "usia bermain," atau tahun kemudian prasekolah (dari sekitar 3 ½ sampai, dalam budaya Amerika Serikat, masuk ke sekolah formal).
Selama itu, anak sehat berkembang belajar:
(1) untuk membayangkan, untuk memperluas keahliannya melalui bermain aktif dari segala macam, termasuk fantasi
(2) bekerja sama dengan orang lain
(3) untuk memimpin serta mengikuti.
Bergerak oleh rasa bersalah, ia adalah:
(1) takut
(2) di pinggiran kelompok
(3) terus terlalu bergantung pada orang dewasa dan
(4) terbatas baik dalam pengembangan keterampilan bermain dan dalam imajinasi.
4. Industri Versus Rendah diri (Kompetensi)
Di sini, anak belajar untuk menguasai keterampilan yang lebih formal kehidupan:
(1) berhubungan dengan rekan-rekan sesuai dengan aturan
(2) maju dari bermain bebas untuk bermain yang mungkin rumit terstruktur dengan aturan dan mungkin menuntut kerja sama tim formal, seperti bisbol dan
(3 ) menguasai ilmu-ilmu sosial, membaca, aritmatika.
5. Belajar Identitas Versus Identitas Difusi (Fidelity)
Selama krisis psikososial anak itu, kini menjadi remaja, belajar bagaimana memuaskan dan dengan senang hati, penyesuaian remaja pengalaman beberapa difusi identitas peran: anak laki-laki yang paling dan mungkin paling eksperimen gadis dengan kenakalan kecil; berkembang pemberontakan; diri - keraguan, dan seterusnya.
6. Belajar Versus Keintiman Isolasi (Cinta)
Orang dewasa muda yang sukses, untuk pertama kalinya, dapat mengalami keintiman benar - jenis keintiman yang membuat perkawinan yang baik mungkin atau persahabatan sejati dan kekal.
7. Belajar generativity Versus Self-Absorption (Care)
Pada dewasa, krisis generativity tuntutan psikososial, baik dalam arti pernikahan dan keluarga, dan dalam arti bekerja secara produktif dan kreatif.
8. Integritas Versus Keputusasaan (Kebijaksanaan)
Ia percaya, ia adalah independen dan berani yang baru. Dia bekerja keras, telah menemukan baik - peran didefinisikan dalam hidup, dan telah mengembangkan konsep-diri dengan bahagia.
Dia bisa intim tanpa ketegangan, rasa bersalah, menyesal, atau kurangnya realisme, dan dia bangga akan apa yang ia ciptakan - anak-anaknya, pekerjaannya, atau hobi-nya.
Tahap perkembangan moral Kohlberg
Kohlberg tahap perkembangan moral merupakan sebuah adaptasi dari teori psikologis awalnya dipahami oleh psikolog Swiss Jean Piaget.
Teori ini menyatakan bahwa penalaran moral, dasar untuk perilaku etis, Skala Kohlberg adalah tentang bagaimana orang membenarkan perilaku dan tahap-Nya bukan metode peringkat bagaimana seseorang moral berperilaku: ada namun harus ada korelasi antara bagaimana seseorang skor pada skala dan bagaimana mereka berperilaku dan hipotesis umum adalah bahwa perilaku moral lebih bertanggung jawab , lebih tinggi tingkat yang konsisten dan dapat diprediksi dari orang-orang.
William berkenaan dengan intelektual (dan moral) pembangunan.
Tahap ini dapat dicirikan dalam hal sikap siswa terhadap pengetahuan. 9 posisi, dikelompokkan ke dalam 4 kategori, yaitu:
1. Dualisme / Diterima Pengetahuan:
2. Ada benar / jawaban yang salah, terukir pada Golden Tablet di langit, diketahui Otoritas.
1. Dasar Duality:
Semua masalah yang dapat dipecahkan; Oleh karena itu, tugas mahasiswa adalah untuk mempelajari Solusi Tepat
2. Full Dualisme:\ Beberapa Otoritas (sastra, filsafat) tidak setuju; lain (sains, matematika) setuju Oleh karena itu, ada Kanan Solusi, tetapi pandangan beberapa guru 'dari Tablet yang dikaburkan. Oleh karena itu, tugas
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI, DAN EMPATI
oleh Robert Elias Bierer Ph.D.,
Penelitian ini menguji hubungan antara intensitas ikatan hewan pendamping dan tingkat harga diri dan empati pada anjing-yang memiliki lima kelas. Hipotesis mengenai dampak memiliki dan ikatan dengan anjing selama preadolescence, serta dampak dari hubungan ini tentang harga diri dan empati, diselidiki. Pengaruh karakteristik keluarga yang dipilih - khususnya, status saudara, status perkawinan orangtua, dan status pekerjaan ibu - pada intensitas obligasi preadolescents 'dengan anjing mereka juga diperiksa.
Kesimpulan
Akhirnya, dukungan untuk kedua manfaat positif dari kepemilikan hewan peliharaan dan kekuatan ikatan untuk anjing ditemukan dalam hasil. Kepemilikan anjing, Harga diri, dan Empati Pertanyaan penelitian pertama bertanya apakah preadolescents yang memiliki anjing akan menunjukkan skor yang lebih tinggi pada pengukuran-pengukuran harga diri dan empati dari rekan-rekan mereka yang tidak anjing sendiri.
Program bimbingan perkembangan yang komprehensif di bidang konseling sekolah (Mr Robert D. Myrick. Mr Myrick (1997)
Program bimbingan perkembangan yang komprehensif di bidang konseling sekolah didefinisikan sebagai pendekatan perkembangan:
"Pendekatan pembangunan adalah suatu usaha untuk mengidentifikasi keahlian tertentu dan pengalaman yang siswa harus memiliki sebagai bagian dari mereka pergi ke sekolah dan menjadi sukses perilaku Belajar dan tugas. Diidentifikasi dan diklarifikasi untuk siswa. Kemudian, kurikulum yang direncanakan pedoman yang melengkapi kurikulum akademis. Selain itu, kecakapan hidup diidentifikasi dan ini ditekankan sebagai bagian dari mempersiapkan siswa untuk dewasa. "
"Myrick (1997) juga mempromosikan berikut tujuh Prinsip Develpmental Program Bimbingan:
1. Perkembangan pedoman bagi semua siswa
2. Perkembangan bimbingan memiliki kurikulum yang terorganisir dan terencana
3. bimbingan Pembangunan adalah sekuensial dan fleksibel.
4. Perkembangan bimbingan merupakan bagian terpadu dari proses pendidikan total
5. Perkembangan bimbingan melibatkan sekolah semua pribadi.
6. bimbingan Perkembangan membantu siswa belajar lebih efektif dan efisien.
7. Perkembangan mencakup bimbingan konselor yang menyediakan khusus layanan konseling dan intervensi.
Referensi
Departemen Pendidikan Nasional, 2007, Naskah Akademik Prnataran Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur pendidikan Formal, Jakarta
Juntika nurihsan, 2001, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling , mutiara . Bandung
Philips, Philosophy Scien and Social Inquiri, tugas akhir PKKh 2010 SPs UPI, Bandung
(http:/mohamadrofiul.blogspot.com/2010/05/makalahlandasanfilosofis-bimbingan.html)
http://en.wikipedia.org/wiki/Piaget%27s_theory_of_cognitive_development
http://www.childdevelopmentinfo.com/development/erickson.shtml
http://en.wikipedia.org/wiki/Kohlberg%27s_stages_of_moral_development
http://www.cse.buffalo.edu/~rapaport/perry.positions.html
http://www.abramarketing.com/h/dogskids/abstract.html
http://www.lewis.edu/apps/pages/index.jsp?uREC_ID=63939&type=d&termREC_ID=&pREC_ID=103582
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar