KORELASI ANTARA
INTELEGENSI DENGAN PERILAKU ADAPTIF
Disampaikan oleh
OLEH: SARJITA
PENGERTIAN INTELEGENSI
Suryabrata (1982)
Intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi.
Sorenson (1977)
Intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Stern (1953)
Intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya.
Thorndike (lih. Skinner, 1959)
Sebagai seorang tokoh koneksionisme mengemukakan pendapatnya bahwa “ intelegence is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truch or fact”
orang dianggap intelegen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. Untuk memberikan respon yang tepat, individu harus memiliki lebih banyak hubungan stimulus-respon, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalaman yang diperolehnya dan hasil-hasil respon-respon yang lalu.
Terman
memberikan pengertian intelegensi sebagai “ the ability to carry on abstract thinking” (lih. Hariman, 1958). (kemampuan untuk [menangani/melanjutkan] abstrak [adalah] berpikir)
Terman membedakan adanya ability yang berkaitan dengan hal-hal yang kongkrit, dan ability yang berkaitan dengan hal-hal yang abstrak. Individu itu intelegen apabila dapat berpikir secara abstrak dengan baik. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berpikir abstrak, individu yang bersangkutan intelegensinya kurang baik
Freeman (1959)
memandang intelegensi sebagai (1) capacity to integrate experiences, (2) capacity to learn, (3) capacity to perform tasks regarded by psychologist as intellectual, (4) capacity to carry on abstract thinking”. Orang yang intelegen adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman, kemampuan untuk belajar dengan lebih baik, kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual, dan kemampuan untuk berpikir abstrak.
Menurut David Wechsler,
Inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Kesimpulan
Bila ditarik inti dari berbagai pendapat tentang pengertian intelegensi tersebut, mengandung pengertian:
1. Proses berfikir
2. penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi. (beradaptasi)
PERILAKU ADAPTIF
James
• Konsep utama : perilaku manusia digerakkan oleh kepercayaan yang dimiliki. Kepercayaan berkembang menurut prinsip evolusi “survival of the fittest”, yang dipertahankan adalah yang paling dibutuhkan manusia. Melalui proses inilah terbentuk perilaku manusia dan habit.
Teori Evolusi Darwin
• Sebagai seorang dualist yang percaya pada pemisahan mind-body, Darwin mengaplikasikan juga pandangannya ini kepada perkembangan fungsi mental makhluk hidup. Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia.
William James
Dalam pandangan-pandangannya yang lain, tampak jelas bahwa bagi James, proses fisiologis di otak dan di dalam tubuh manusia adalah representasi dari proses mental dan hal ini adalah penentu tingkah laku dan menentukan bagaimana manusia mempersepsikan lingkungan. James juga mengakui adanya proses habituasi yang otomatis dan semakin tidak disadari, meskipun meninggalkan jejak dalam benak manusia. Baginya, proses mind lebih penting daripada elemen-elemen mind itu sendiri. Pandangan ini terwakili dengan jelas dalam teorinya tentang emosi, bersama-sama Carl Lange, yang dikenal sebagai James-Lange Theory.
Aliran Fungsionalisme
• Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respon adalah suatu kesatuan
• Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan sangat membantu pemahaman terhdap fungsi mental.
John Dewey (1859-1952)
• Pandangan utamanya bahwa sebuah aksi psikologis adalah suatu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipecah ke dalam bagian-bagian atau elemen (seperti yang dilakukan oleh strukturalisme). Maka setiap psychological events tidak bisa dipandang sebagai konstruk-konstruk abstrak. Akan lebih bermanfaat apabila difokuskan pada fungsi psy. Events tersebut, yaitu dalam konteksnya sebagai adaptasi manusia. Contoh : anak yang mengulurkan jarinya sebagai respon adanya api dan terbakar.
James Rowland Angell (1867-1949)
• Functional psychology adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan mind and body.
Harvey A. Carr (1873-1954)
• Bagi Carr, aspek penting dari psikologi adalah perilaku adaptif manusia. Ia menjelaskan berbagai fungsi mental manusia (perception, learning, emotion dan thinking ) dengan kerangka berpikir perilaku adaptif manusia.
Kesimpulan
Dari berbagai pendapat para tokoh di atas semuanya mengemukakan bahwa perilaku adaptif/kebutuhaan manusia akan lingkungan sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis atau dipengaruhi oleh mental (mind). Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar