REVIEW ON PHILOSOPHY, THEORY
AND PRACTICE OF DEVELOPMENTAL GUIDANCE AND COUNSELING
REVIEW ON PHILOSOPHY, THEORY
AND PRACTICE OF DEVELOPMENTAL GUIDANCE AND COUNSELING
Dalam memahami ilmu serta dasar – dasar Bimbingan dan Konseling harus terlebih dahulu memahami secara menyeluruh tentang semua aspek serta konsep mengenai Bimbingan dan Konseling, yang meliputi:
fungsi,
filosofi,
sasaran, serta
bidang jasa atau layanan mengenai Bimbingan dan Konseling.
Bimbingan dan Konseling atau guidance and counseling merupakan ilmu yang sistematis serta prosedural baik itu dalam pembelajaran maupun pemanfaatan serta praktik profesi konseling. Dan berarti bahwa Bimbingan dan Konseling adalah ilmu dalam pengarahan, pemahaman serta penuntunan bagi individu agar lebih baik, sehingga dalam prosesnya menghasilkan tugas dari pengembangan masyarakat, program–program pengembangan, serta kemampuan konseling dan intervensi terhadap individu.
Fungsi utama dari konselor sekolah adalah untuk membantu semua siswa dengan pertumbuhan (developmental) dalam pemahaman diri, mengembangkan interpersonal, pemecahan masalah, dan ketrampilan pengambilan keputusan dan kesadaran kerja.
Hal ini dicapai melalui bimbingan kelas, sesi kelompok besar dan kecil, dan konseling individual. Program ini dirancang untuk menjadi berurutan dan pencegahan (preventif) untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada siswa dalam mengembangkan dan menerapkan kompetensi demi keberhasilan akademis dan karier.
Program bimbingan dan konseling melayani mekanisme untuk membantu individu dengan resolusi permasalahan (krisis) yang menghambat perkembangan yang sehat dan prestasi akademik. Program bimbingan bertanggung jawab untuk membantu siswa dalam mengembangkan dan mempertahankan kemampuan yang dibutuhkan.
Devinisi Counseling
denotes a relationship between a trained helper and a person seeking help in wich both the skills of the helper and the atmosphere that he or she creates help people learn to relate with themselves and others in more growth producing ways
(menunjukkan hubungan antara penolong yang terlatih dan orang yang mencari bantuan di mana baik keterampilan penolong dan suasana yang ia ciptakan membantu orang belajar berhubungan dengan diri mereka sendiri dan cara lain pertumbuhan yang lebih produktif)
A. LANDASAN DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Landasan Filosofis
1.1 Makna dan Fungsi Prinsip-prinsip Filosofis Bimbingan Konseling
Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: Philos berarti cinta dan sophos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Pelayanan bimbingan dan konseling dalam landasan filosofis berarti memberikan pemikiran-pemikiran tentang hakikat dan tujuan hidup manusia dipandang dari perspektif filsafat untuk menemukan hakikat manusia secara utuh mengingat bimbingan konseling akan selalu berkaitan dengan manusia sebagai objeknya
Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa :
1) Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan,
2) Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
3) Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan
4) Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.
Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat John J. Pietrofesa et. al. dalam Fawzi (http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/12/14/) mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-prinsip filosofis dalam bimbingan sebagai berikut:
a. Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan harga diri individu dan hak-haknya untuk mendapat bantuannya.
b. Bimbingan merupakan proses yang berkeseimbangan
c. Bimbingan harus Respek terhadap hak-hak klien
d. Bimbingan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental
e. Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya
f. Bimbingan merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat individualisasi dan sosialisasi
1.2 Hakikat Manusia
a. B.F Skinner dan Watsan (Gerold Corey, Terjemahan E. Koeswara, 1988) dalam Fawzi. Mengemukakan tentang hakekat manusia:
a.1 Manusia dipandang memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negatif yang sama
a.2 Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budaya
a.3 Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari
a.4 Manusia tidak memiliki kemampuan untuk membentuk nasibnya sendiri
b.Virginia Satir (Dalam Thompson dan Rodolph, 1983 (http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/12/14/). Memandang bahwa manusia pada hakekatnya positif, Satir berkesimpulan bahwa pada setiap saat, dalam suasana apapun juga, manusia dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.
Upaya-upaya bimbingan dan konseling perlu didasarkan pada pemahaman tentang hakekat manusia agar upaya-upaya tersebut dapat lebih efektif.
B. Landasan Historis
1. Sekilas tentang sejarah bimbingan dan konseling
Secara umum, konsep bimbingan dan konseling telah lama dikenal manusia melalui sejarah. Sejarah tentang pengembangan potensi individu dapat ditelusuri dari masyarakat yunani kono. Mereka menekankan upaya-upaya untuk mengembangkan dan menguatkan individu melalui pendidikan.
Plato dipandang sebagan koselor Yunani Kuno karena dia telah menaruh perhatian besar terhadap masalah-masalah pemahaman psikologis individu seperti menyangkut aspek isu-isu moral, pendidikan, hubungan dalam masyarakat dan teologis.
2. Perkembangan Layanan Bimbingan di Amerika
Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru.
Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri. Tahun 1898 Jesse B. Bradley (John J.Pie Trafesa et. al., 1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut Stiller, yaitu sebagai berikut:
1) Vocational exploration : Tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran kerja
2) Metting Individual Needs : Tahapan yang menekankan membantu individu agar meeting memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Perkembangan BK pada tahapan ini dipengaruhi oleh diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
3) Transisional Professionalism : Tahapan yang memfokuskan perhatian kepada upaya profesionalisasi konselor
4) Situasional Diagnosis : Tahapan sebagai periode perubahan dan inovasi pada tahapan ini memfokuskan pada analisis lingkungan dalam proses bimbingan dan gerakan cara-cara yang hanya terpusat pada individu.
3. Perkembangan Layanan Bimbingan Di Indonesia
Dengan adanya gagasan sekolah pembangunan pada tahun 1970/1971, peranan bimbingan kembali mendapat perhatian. Gagasan sekolah pembangunan ini dituangkan dalam program sekolah menengah pembangunan persiapan, yang berupa proyek percobaan dan peralihan dari sistem persekolahan Cuma menjadi sekolah pembangunan.
Secara resmi BK di programkan disekolah sejak diberlakukan kurikulum 1975, tahun 1975 berdiri ikatan petugas bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang.
Penyempurnaan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir di dalamnya. Selanjutnya UU No. 0/1989 tentang Sisdiknas membuat mantap posisi bimbingan dan konseling yang kian diperkuat dengan PP No. 20 Bab X Pasal 25/1990 dan PP No. 29 Bab X Pal 27/1990 yang menyatakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
Perkembangan BK di Indonesia semakin mantap dengan berubahnya 1 PBI menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) tapa tahun 2001.
C. Landasan Religius
1. Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:
a. Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk tuhan
b. Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
c. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu
Landasan Religius berkenaan dengan :
2. Manusia sebagai Mahluk Tuhan
Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sisi-sisi kemanusiaan tersebut tdiak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal negatif. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan tersebut pada hal-hal positif.
3. Sikap Keberagamaan
Agama yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagamaan. Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan pada agama itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
4. Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi :
a. Memelihara fitrah
b. Memelihara jiwa
c. Memelihara akal
d. Memelihara keturunan
D. Landasan Psikologis
Landasan prikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menajadi sasaran (klien). Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku yang perlu diubah atau dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi
Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu dikuasai, yaitu tentang:
1. Motif dan motivasi
2. Pembawaan dasar dan lingkungan
3. Perkembangan individu
4. Belajar, balikan dan penguatan
5. Kepribadian
E. Landasan Sosial Budaya
Kebudayaan akan bimbingan timbul karena terdapat faktor yang menambah rumitnya keadaan masyarakat dimana individu itu hidup. Faktor-faktor tersebut seperti perubahan kontelasi keuangan, perkembagan pendidikan, dunia-dunia kerja, perkembangan komunikasi dll (Jonh), Pietrofesa dkk, 1980; M. Surya & Rochman N, 1986; dan Rocman N, 1987)
G. Landasan Pedagogis
Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial menurut Budi Santoso dalam Fawzi:
1. Pendidikan sebagai upaya pengembangan Individu: Bimbingan merupakan bentuk upaya pendidikan.
2. Pendidikan sebagai inti Proses Bimbingan Konseling.
Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klien-kliennya.
3. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan Bimbingan tujuan dan konseling
Tujuan Bimbingan dan Konseling disamping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya.
konseling psychotheraphy
konseling berurusan dengan orang normal kebanyakan psikoterapi terutama berkaitan dengan mereka yang secara psikologis terganggu
konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar, dan jangka pendek psikoterapi lebih rekonstructive, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan jangka panjang
konseling lebih terstruktur dan diarahkan terbatas, tuanya nyata tujuan psikoterapi ispurposely lebih ambigu dan memiliki bahwa perubahan dan berkembang sebagai pribadi kemajuan
Piaget teori perkembangan kognitif
Teori Piaget perkembangan kognitif adalah teori komprehensif tentang sifat ituberhubungan dengan sifat pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia datang secara bertahap untuk mendapatkannya, membangun, dan menggunakannya. Selain itu, Piaget mengklaim gagasan bahwa perkembangan kognitif adalah pusat dari organisme manusia dan bahasa bertumpu pada pengembangan kognitif.
Di bawah ini, ada penjelasan singkat pertama pandangan Piaget tentang sifat kecerdasan dan kemudian deskripsi tahap melalui yang berkembang hingga jatuh tempo.
Tahapan Pembangunan Sosial-Emosional Pada Anak dan Remaja
Halaman ini menyajikan gambaran umum tentang tugas-tugas pembangunan terlibat dalam pembangunan sosial dan emosional anak-anak dan remaja yang terus menjadi dewasa. Presentasi didasarkan pada Delapan Tahapan Pembangunan yang dikembangkan oleh psikiater, Erik Erikson pada tahun 1956.
Erikson Delapan Tahapan Pengembangan
1. Belajar Dasar Kepercayaan Versus Ketidakpercayaan Dasar (Harapan)
Anak, baik - ditangani, dipelihara, dan dicintai, mengembangkan kepercayaan dan keamanan dan optimisme yang dasar. Buruk ditangani, ia menjadi tidak aman dan curiga.
2. Belajar Otonomi Versus Shame (Will)
Pola asuh yang baik, anak muncul dari tahap yakin pada dirinya sendiri, gembira dengan kontrol yang baru ditemukan, dan bangga daripada malu.
Otonomi bukan, bagaimanapun, seluruhnya identik dengan meyakinkan diri - kepemilikan, inisiatif, dan kemerdekaan tetapi, setidaknya untuk anak-anak di bagian awal dari krisis psikososial, termasuk badai diri - akan, tantrum, keras kepala, dan negativisme. Misalnya, seseorang melihat
3. Belajar Inisiatif Versus Rasa Bersalah (Tujuan)
Erikson berpendapat bahwa krisis psikososial ketiga terjadi selama apa yang dia sebut "usia bermain," atau tahun kemudian prasekolah (dari sekitar 3 ½ sampai, dalam budaya Amerika Serikat, masuk ke sekolah formal).
Selama itu, anak sehat berkembang belajar:
(1) untuk membayangkan, untuk memperluas keahliannya melalui bermain aktif dari segala macam, termasuk fantasi
(2) bekerja sama dengan orang lain
(3) untuk memimpin serta mengikuti.
Bergerak oleh rasa bersalah, ia adalah:
(1) takut
(2) di pinggiran kelompok
(3) terus terlalu bergantung pada orang dewasa dan
(4) terbatas baik dalam pengembangan keterampilan bermain dan dalam imajinasi.
4. Industri Versus Rendah diri (Kompetensi)
Di sini, anak belajar untuk menguasai keterampilan yang lebih formal kehidupan:
(1) berhubungan dengan rekan-rekan sesuai dengan aturan
(2) maju dari bermain bebas untuk bermain yang mungkin rumit terstruktur dengan aturan dan mungkin menuntut kerja sama tim formal, seperti bisbol dan
(3 ) menguasai ilmu-ilmu sosial, membaca, aritmatika.
5. Belajar Identitas Versus Identitas Difusi (Fidelity)
Selama krisis psikososial anak itu, kini menjadi remaja, belajar bagaimana memuaskan dan dengan senang hati, penyesuaian remaja pengalaman beberapa difusi identitas peran: anak laki-laki yang paling dan mungkin paling eksperimen gadis dengan kenakalan kecil; berkembang pemberontakan; diri - keraguan, dan seterusnya.
6. Belajar Versus Keintiman Isolasi (Cinta)
Orang dewasa muda yang sukses, untuk pertama kalinya, dapat mengalami keintiman benar - jenis keintiman yang membuat perkawinan yang baik mungkin atau persahabatan sejati dan kekal.
7. Belajar generativity Versus Self-Absorption (Care)
Pada dewasa, krisis generativity tuntutan psikososial, baik dalam arti pernikahan dan keluarga, dan dalam arti bekerja secara produktif dan kreatif.
8. Integritas Versus Keputusasaan (Kebijaksanaan)
Ia percaya, ia adalah independen dan berani yang baru. Dia bekerja keras, telah menemukan baik - peran didefinisikan dalam hidup, dan telah mengembangkan konsep-diri dengan bahagia.
Dia bisa intim tanpa ketegangan, rasa bersalah, menyesal, atau kurangnya realisme, dan dia bangga akan apa yang ia ciptakan - anak-anaknya, pekerjaannya, atau hobi-nya.
Tahap perkembangan moral Kohlberg
Kohlberg tahap perkembangan moral merupakan sebuah adaptasi dari teori psikologis awalnya dipahami oleh psikolog Swiss Jean Piaget.
Teori ini menyatakan bahwa penalaran moral, dasar untuk perilaku etis, Skala Kohlberg adalah tentang bagaimana orang membenarkan perilaku dan tahap-Nya bukan metode peringkat bagaimana seseorang moral berperilaku: ada namun harus ada korelasi antara bagaimana seseorang skor pada skala dan bagaimana mereka berperilaku dan hipotesis umum adalah bahwa perilaku moral lebih bertanggung jawab , lebih tinggi tingkat yang konsisten dan dapat diprediksi dari orang-orang.
William berkenaan dengan intelektual (dan moral) pembangunan.
Tahap ini dapat dicirikan dalam hal sikap siswa terhadap pengetahuan. 9 posisi, dikelompokkan ke dalam 4 kategori, yaitu:
1. Dualisme / Diterima Pengetahuan:
2. Ada benar / jawaban yang salah, terukir pada Golden Tablet di langit, diketahui Otoritas.
1. Dasar Duality:
Semua masalah yang dapat dipecahkan; Oleh karena itu, tugas mahasiswa adalah untuk mempelajari Solusi Tepat
2. Full Dualisme:\ Beberapa Otoritas (sastra, filsafat) tidak setuju; lain (sains, matematika) setuju Oleh karena itu, ada Kanan Solusi, tetapi pandangan beberapa guru 'dari Tablet yang dikaburkan. Oleh karena itu, tugas
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI, DAN EMPATI
oleh Robert Elias Bierer Ph.D.,
Penelitian ini menguji hubungan antara intensitas ikatan hewan pendamping dan tingkat harga diri dan empati pada anjing-yang memiliki lima kelas. Hipotesis mengenai dampak memiliki dan ikatan dengan anjing selama preadolescence, serta dampak dari hubungan ini tentang harga diri dan empati, diselidiki. Pengaruh karakteristik keluarga yang dipilih - khususnya, status saudara, status perkawinan orangtua, dan status pekerjaan ibu - pada intensitas obligasi preadolescents 'dengan anjing mereka juga diperiksa.
Kesimpulan
Akhirnya, dukungan untuk kedua manfaat positif dari kepemilikan hewan peliharaan dan kekuatan ikatan untuk anjing ditemukan dalam hasil. Kepemilikan anjing, Harga diri, dan Empati Pertanyaan penelitian pertama bertanya apakah preadolescents yang memiliki anjing akan menunjukkan skor yang lebih tinggi pada pengukuran-pengukuran harga diri dan empati dari rekan-rekan mereka yang tidak anjing sendiri.
Program bimbingan perkembangan yang komprehensif di bidang konseling sekolah (Mr Robert D. Myrick. Mr Myrick (1997)
Program bimbingan perkembangan yang komprehensif di bidang konseling sekolah didefinisikan sebagai pendekatan perkembangan:
"Pendekatan pembangunan adalah suatu usaha untuk mengidentifikasi keahlian tertentu dan pengalaman yang siswa harus memiliki sebagai bagian dari mereka pergi ke sekolah dan menjadi sukses perilaku Belajar dan tugas. Diidentifikasi dan diklarifikasi untuk siswa. Kemudian, kurikulum yang direncanakan pedoman yang melengkapi kurikulum akademis. Selain itu, kecakapan hidup diidentifikasi dan ini ditekankan sebagai bagian dari mempersiapkan siswa untuk dewasa. "
"Myrick (1997) juga mempromosikan berikut tujuh Prinsip Develpmental Program Bimbingan:
1. Perkembangan pedoman bagi semua siswa
2. Perkembangan bimbingan memiliki kurikulum yang terorganisir dan terencana
3. bimbingan Pembangunan adalah sekuensial dan fleksibel.
4. Perkembangan bimbingan merupakan bagian terpadu dari proses pendidikan total
5. Perkembangan bimbingan melibatkan sekolah semua pribadi.
6. bimbingan Perkembangan membantu siswa belajar lebih efektif dan efisien.
7. Perkembangan mencakup bimbingan konselor yang menyediakan khusus layanan konseling dan intervensi.
Referensi
Departemen Pendidikan Nasional, 2007, Naskah Akademik Prnataran Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur pendidikan Formal, Jakarta
Juntika nurihsan, 2001, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling , mutiara . Bandung
Philips, Philosophy Scien and Social Inquiri, tugas akhir PKKh 2010 SPs UPI, Bandung
(http:/mohamadrofiul.blogspot.com/2010/05/makalahlandasanfilosofis-bimbingan.html)
http://en.wikipedia.org/wiki/Piaget%27s_theory_of_cognitive_development
http://www.childdevelopmentinfo.com/development/erickson.shtml
http://en.wikipedia.org/wiki/Kohlberg%27s_stages_of_moral_development
http://www.cse.buffalo.edu/~rapaport/perry.positions.html
http://www.abramarketing.com/h/dogskids/abstract.html
http://www.lewis.edu/apps/pages/index.jsp?uREC_ID=63939&type=d&termREC_ID=&pREC_ID=103582
Selasa, 02 November 2010
ASESMEN
ASESMEN SOSIAL KEBUTUHAN KHUSUS
ANAK TUNAGRAHITA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mental retardasi (MR) adalah cacat perkembangan yang pertama muncul pada anak di bawah usia 18 tahun. Hal ini didefinisikan sebagai tingkat berfungsi intelektual (sebagaimana diukur oleh tes kecerdasan standar) yang jauh di bawah rata-rata dan hasil dalam keterbatasan yang signifikan dalam keterampilan sehari-hari orang hidup (berfungsi adaptif).
Keterbelakangan mental dimulai di masa kanak-kanak atau remaja sebelum usia 18 tahun. Dalam kebanyakan kasus, tetap ada sepanjang hidup dewasa. Diagnosis keterbelakangan mental dibuat jika seseorang memiliki tingkat intelektual berfungsi jauh di bawah rata-rata, serta keterbatasan yang signifikan dalam dua atau lebih bidang keterampilan adaptif. Tingkat intelektual berfungsi didefinisikan oleh tes standar yang mengukur kemampuan untuk alasan dari segi usia mental (kecerdasan quotient atau IQ).
Keterbelakangan mental didefinisikan sebagai nilai IQ di bawah 70-75. keterampilan adaptif adalah istilah yang mengacu pada keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari. keterampilan tersebut mencakup kemampuan untuk memproduksi dan memahami bahasa (komunikasi); keterampilan rumah-hidup, penggunaan sumber daya masyarakat, kesehatan, keselamatan, waktu luang, perawatan diri, dan keterampilan sosial; diri sendiri arah; keterampilan fungsional akademik (membaca, menulis, dan berhitung), dan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Secara umum, keterbelakangan mental anak-anak mencapai tahap perkembangan seperti berjalan dan berbicara banyak lebih dari anak-anak di populasi umum. Gejala keterbelakangan mental mungkin muncul pada saat lahir atau yang lebih baru di masa kecil. Usia anak saat onset tergantung pada penyebab diduga kecacatan. Beberapa kasus keterbelakangan mental ringan tidak didiagnosis sebelum anak masuk prasekolah atau TK. Anak-anak ini biasanya memiliki kesulitan dengan sosial, komunikasi, dan keterampilan akademik fungsional. Anak-anak yang memiliki gangguan saraf atau penyakit seperti ensefalitis atau meningitis tiba-tiba mungkin menunjukkan tanda-tanda kerusakan kognitif dan kesulitan adaptif.
Keterbelakangan mental bervariasi dalam tingkat keparahan. Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, edisi keempat, revisi teks (DSM-IV-TR), yang merupakan standar diagnostik bagi para profesional perawatan kesehatan mental di Amerika Serikat, mengklasifikasikan empat derajat keterbelakangan mental yang berbeda: ringan, sedang, berat , dan mendalam. Kategori ini didasarkan pada tingkat orang tersebut berfungsi.
Keterbelakangan mental ringan.
Sekitar 85% dari populasi retardasi mental dalam kategori agak terbelakang. IQ mereka berkisar skor 50-70, dan mereka sering dapat memperoleh keterampilan akademik sampai sekitar tingkat kelas enam. Mereka dapat menjadi cukup mandiri dan dalam beberapa kasus hidup mandiri, dengan masyarakat dan dukungan sosial. Sedang mental retardasi
Sekitar 10% dari populasi retardasi mental dianggap cukup terbelakang. Cukup orang terbelakang memiliki skor IQ berkisar 35-55. Mereka dapat melaksanakan pekerjaan dan tugas-tugas perawatan diri dengan pengawasan moderat. Mereka biasanya memperoleh keterampilan komunikasi di masa kecil dan mampu hidup dan fungsi berhasil dalam komunitas di lingkungan diawasi seperti rumah-rumah kelompok.
Keterbelakangan mental yang parah Sekitar 3-4% dari populasi retardasi mental adalah sangat terbelakang. Parah orang terbelakang memiliki skor IQ 20-40. Mereka mungkin menguasai keterampilan perawatan diri sangat mendasar dan beberapa keterampilan komunikasi. Banyak individu sangat terbelakang dapat tinggal di rumah kelompok.
Keterbelakangan mental yang mendalam hanya 1-2% dari populasi retardasi mental diklasifikasikan sebagai sangat terbelakang. Bagi individu terbelakang memiliki nilai IQ di bawah 20-25. Mereka mungkin dapat mengembangkan dasar perawatan diri dan keterampilan komunikasi dengan dukungan dan pelatihan. keterbelakangan mereka sering disebabkan oleh gangguan neurologis yang menyertainya. Bagi orang terbelakang membutuhkan tingkat tinggi struktur dan pengawasan.
American Association Mental Retardasi (AAMR) telah mengembangkan sistem klasifikasi lain diterima secara luas diagnostik untuk keterbelakangan mental. Sistem klasifikasi AAMR berfokus pada kemampuan individu terbelakang bukan pada keterbatasan nya.
Kategori menggambarkan tingkat dukungan yang dibutuhkan. Mereka adalah: dukungan intermiten, dukungan terbatas, dukungan yang luas, dan dukungan meresap. Untuk beberapa hal, klasifikasi AAMR cermin klasifikasi DSM-IV-TR. dukungan terputus, misalnya, adalah dukungan yang diperlukan hanya kadang-kadang, mungkin selama masa stres atau krisis bagi orang yang terbelakang. Ini adalah jenis dukungan biasanya diperlukan untuk kebanyakan orang agak terbelakang. Di ujung lain spektrum, dukungan luas, atau seumur hidup, dukungan setiap hari untuk daerah yang paling adaptif, akan diperlukan untuk orang-orang sangat terbelakang.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara melatih anak tunagrahita agar dapat Merawat Diri Sendiri ?
C. Kegiatan Program Bina Diri
Sesuai dengan klasifikasi anak tunagrahita tersebut di atas maka program layanan pendidikan khusus dapat diprogramkan sebagai berikut:
Ruang lingkup program pendidikan bina diri antara laian:
1. Kebutuhan akan merawat diri
2. Kebutuhan akan mengurus diri
3. Kebutuhan akan menolong diri
4. Kebutuhan akan interaksi sosial
5. Kebutuhan akan berkomunikasi
BAB II
AREA ASESEMEN
A. Pengertian Asesmen
1. Asesmen merupakan sebuah proses pengumpulan informasi yang terus menerus berlangsung untuk mengukur performansi murid dan proses pembelajaran. Asesmen perkembangan dan belajar anak memiliki nilai penting. Tidak hanya mengukur kemajuan anak-anak sebagai bentuk evaluasi program, asesmen juga berguna untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf dan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang
2. Asesmen yang tepat berguna untuk membantu anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Asesmen yang tepat juga dapat digunakan untuk mendeteksi keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki anak-anak. Selain itu informasi yang akurat dari sebuah asesmen bermanfaat untuk peningkatan pembelajaran sehingga proses belajar anak-anak membaik dan sebagai informasi bagi para orangtua tentang kemajuan dan hal-hal terkait dengan belajar anak-anak mereka.
3. Berdasarkan pendapat tersebut di atas bahwa asesmen yang tepat merupakan bagian penting dari program evaluasi dan perbaikan terus menerus kualitas program pendidikan yang sudah dirancang. Dalam program pendidikan yang berkualitas, pihak-pihak terkait dengan pendidikan anak menggunakan informasi dari berbagai macam sumber untuk merencanakan dan membuat keputusan-keputusan tentang anak-anak secara individual.
B. Macam-Macam Asesmen
1. Asesmen Perkembangan
Asesmen perkembangan ini meliputi perkembangan: kognitif, motorik, sosial/emosi, dan bahasa/komunikasi
2. Asesmen Akademik
Yang termasuk kedalam asesmen akademik antara lain: asesmen matematik (pra matematik dan matematik), asesmen membaca (pramembaca, membaca awal, membaca lanjut)
C. Asesmen Perkembangan Sosial 9-10 tahun
Perkembangan Sosial
Pengelompokan sosial dan perilaku sosial pada masa akhir anak-anak disebut sebagai usia berkelompok karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai suatu anggota kelompok (Elizabeth B. Hurlock: 1980: 155).
Krech et. al. (1962:104-106) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon interpersonalnya, yang terdiri dari :
(1) Kecenderungan Peranan (Role Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan posisi yang dimiliki seorang individu,
(2) Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain, dan
(3) Ekspressi (Expression Disposition), yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam melakukan asesmen perkembangan sosial anak, untuk mendapatkan gambaran yang nyata dari perilaku sosial anak. Berdasarkan teori di atas maka maka aspek perkembangan sosial dapat kami kembangkan kedalam indikator-indikator sebagai berikutserta:
1. Aspek Sosial yang diamati:
1) Kecenderungan Peranan
b. Meniru
c. Kerjasama
d. Perilaku akrab
2) Kecenderungan Sosiometrik
a. Dukungan sosial
b. Empati
3) Ekspressi
a. Persaingan
b. Membagi
D. Lingkungan sosial yang harus dijadikan tempat pengamatan antara lain:
• Observasi langsung di lingkungan sekolah
• lingkungan keluarga dan atau lingkungan luar rumah/tetangga (dengan angket atau wawancara)
• lingkungan sekolah (dengan cara wawancara atau angket kepada guru kelas)
PENGADMINISTRASIAN
A. Merekap Hasil Asesmen
Catatan hasil observasi yang telah dilaksanakan oleh asesor mulai dari awal sampai akhir, selanjutnya dibuat rekapan agar data dapat dibaca atau dipahami.
1. Pencacatan Hasil Obaservasi
a. Penghitungan skor dilakukan pada setiap aspek perkembangan sosial yang diamati
1) Aspek Meniru = …%
2) Aspek Persaingan = …%
3) Aspek Kerjasama = …%
4) Empati = …%
5) Dukungan Sosial = …%
6) Membagi = …%
7) Perilaku Akrab = …%
Setiap aspek perkembangan hasilnya diprosentasikan dengan rumus:
N = Jumlah perilaku yang muncul X 100%
Jumlah perilaku keseluruhan
Misal: 4 X 100 = 80%
5
Interpretasi:
1. 90 – 100 % = perilaku sosialnya sangat baik
2. 75 – 89 % = perilaku sosialnya baik
3. 65 – 74 % = perilaku sosialnya cukup
4. 55- 64 % = perilaku sosialnya kurang
5. Kurang dari 55% = sangat kurang
b. Setelah diprosentasikan tiap aspek perkembangan kemudian direkap hasil nilai secara keseluruhan.
c. Apa bila skor nilai anak berada antara 64 % sampai dengan 89 % dianggap perilaku sosialnya dianggap normal. Dan seandainya ditemukan anak yang mencapai skor di atas 90 % atau di bawah 64 % maka perlu dites ulang, karena skor tersebut diindikasikan perkembangan sosialnya keluar dari perkembangan milestone sosial anak pada umumnya.
d. Acuan perkembangan sosial yang umum:
Perilaku sosial individu dilihat dari kecenderungan peranan (role disposition) dapat dikatakan memadai, manakala menunjukkan ciri-ciri respons interpersonal sebagai berikut :
(1) memiliki kemampuan dalam bergaul secara sosial;
(2) memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya;
(3) mampu memimpin teman-teman dalam kelompok; dan
(4) tidak mudah terpengaruh orang lain dalam bergaul.
Sebaliknya, perilaku sosial individu dikatakan kurang atau tidak memadai manakala menunjukkan ciri-ciri respons interpersonal sebagai berikut :
(1) kurang mampu bergaul secara sosial;
(2) mudah menyerah dan tunduk pada perlakuan orang lain;
(3) pasif dalam mengelola kelompok; dan
(4) tergantung kepada orang lain bila akan melakukan suatu tindakan.
e. Grafik perkembangan sosialisasi
Nama anak: .....
Aspek Meniru
Perilaku yang Muncul secara konsisten
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Persaingan
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Kerja sama
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Empati
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Dukungan Sosial
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Membagi
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Perilaku Akrab
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Grafik Perkembangan Sosial secara Umum
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
M TM
M TM M TM M TM M TM M TM M TM
Meniru Persaingan Kerja
sama Empati Dukungan
Sosial Membagi Perila
ku akrab
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
f. Skrining dilakukan kembali kepada anak yang mendapatkan skor tertinggi dan kepada anak yang mendapat skor terendah karena diperkirakan anak tersebut memiliki perilaku sosial yang menyimpang, dengan maksud untuk mendapatkan data yang akurat. Adapun skrining dilakukan dengan cara:
1. Observasi ulang
2. Wawancara dengan orang tua
3. Wawancara dengan guru
g. Intervensi dilakukan kepada anak-anak yang menunjukan perilaku sosial yang berlebihan dan kepada anak-anak yang diindikasikan perilaku sosialnya dibawah rata-rata.
h. Saran
Ditujukan Kepada orang tua dan guru kelas apabila:
Anak menunjukan perilaku sosial yang berlebihan dan kepada anak-anak yang diindikasikan perilaku sosialnya dibawah rata-rata. Agar dapat membantu perkembangan sosial anak
Lampiran
INSTRUMEN ASESMEN PERKEMBANGAN SOSIAL
I. IDENTITAS SUBYEK
Nama :
Tanggal lahir :
Agma :
Jenis kelamin :
Anak ke :
Jumlah saudara :
II. Identitas Orang Tua
Nama ayah :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat rumah :
Nama ibu :
Pendidikan :
No Aspek Sosial/Perilaku social Kemampuan Ket
Konsisten Berkembang Belum teramati
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Meniru
a. Menyenangi hubungan dengan manusia daripada dengan benda
b. Menyukai (menunjukan minat) untuk melihat orang lain bermain
c. Berusaha membuat kontak dengan teman sebaya
d. Berusaha menjadi anggota kelompok (kelompok/geng)
e. Menyenagi hubungan dengan kelompok sejenis
f. Banyak berbicara
g. permainan fantasi (dokter-dokteran)
h. memahami peraan orang lain (dalam kelompok)
i. Menjelajahi lingkungan
j. mempelajari obyek-obyek sekitar
Jumlah skor
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2 Persaingan (Kadang terjadi kontak tapi lebih bersifat persaingan)
a. Kemampuan mengungkapkan diri dalam peran tertentu
b. Kemampuan mengendalikan diri (tidak merebut mainan teman)
c. Mengakui kelebihan orang lain (pada peran tertentu)
d. Menghargai dan mengapresiasikan kerja orang lain
e. Menghindari upaya dan cara yang tidak benar, tidak adil dan merugikan orang lain dalam berkompetisi
f. Menjadikan orang lain sebagai partner
Jumlah skor
3
Kerjasama (Bermain asosiatif dan koopratif)
a. Belajar memecahkan masalah yang dihadapi
b. Mengadakan kegiatan yang menyerupai teman dalam satu kelompok
c. Bermain yang popular (olahraga)
d. Kemampuan bekerja sama
e. Takut dan malu bila bergaul dengan orang lain yang belum dikenal
f. Kecenderungan menampilkan keyakinan diri
g. Kecenderungan untuk memimpin orang lain
h. Kecenderungan untuk menguasai orang lain
i. Bebas dari pengaruh orang lain
j. Mengambil peran dalam kelompok
k. Kadang masih berperan sebagai penonton (mengamati cara orang lain berinteraksi)
l. Menunjukan rasa simpati kepada orang lain
m. Permainan Unccupied (mengamati sesuatu yang menarik selanjutnya melakukan dengan gerakan yang bebas dalam bentuk tingkahlaku yangtdk terkontrol)
n. Permainan solitary
(dalam kelompok ttp anak bermain sendiri-sendiri)
o. Permainan onlooker (anak memperhatikan anak yang lain bermain, anak ikut berbicara ttp dia tdk ikut bermain)
p. Permainan parallel (bermain dengan alat yang sama ttp anak tdk terjadi kontak antara satu dgn lainnya)
q. Permainan Assosiative (anak bermain bersama-sama , saling meminjamkan alat ttp tidak ada satu tujuan )
Permainan terorganisir dgn kegiatan konstruktif dan membuat suatu yang nyata , setiap anak mempunyai peran sendiri, permainan ini dipimpin salah seorang atau dua
Jumlah skor
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
4 Empati (Menunjukan rasa empati terhadap orang yang dikenalnya)
a. Berteman dengan teman sebaya
b. Berkomunikasi dengan orang lain di luar rumah/ tetangga
c. Menangis kalau orang yang dikelanya (teman, anggota keluarga) ada yang menangis
d. Merasa iba bila temannya dimarahi
e. Merasa iba bila temannya mendapat permasalahan
f. Memahami peran orang lain
Jumlah skor
5 Dukungan sosial (Berusaha mendapat dukungan dari teman dan keluarganya)
a. Menghargai orang lain
b. Dapat memberi dan menerima bantuan orang lain
c. Dibutuhkan oleh teman
Jumlah skor
6 Membagi
a. Meminjamkan mainan kepada orang lain
b. Memberikan makanan kepada orang lain
c. Mampu mengadakan hubungan personal dengan teman (persahabatan)
d. Menunjukan kasih sayang kepada orang lain
e. Menunjukan kasih sayang kepada benda
f. Tukar menukar alat permainan
g. Berbagi makanan
Jumlah skor
7 Perilaku akrab
a. Menunjukan perasaan sayang terhadap orang-orang tertentu
b. Menunjukan perasaan sayang terhadap benda-benda tertentu
c. Yakin akan kemampuannya dalam bergaul
d. Memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya
e. Mampu memimpin teman-teman dalam kelompok
Jumlah skor
Penghitungan Skor aspek perkembangan sosial
1) Aspek Meniru = …%
2) Aspek Persaingan = …%
3) Aspek Kerjasama = …%
4) Empati = …%
5) Dukungan Sosial = …%
6) Membagi = …%
7) Perilaku Akrab = …%
Setiap aspek perkembangan hasilnya diprosentasikan dengan rumus:
N = Jumlah perilaku yang muncul X 100%
Jumlah perilaku keseluruhan
Misal: 4 X 100 = 80%
5
Interpretasi:
90 – 100 % = perilaku sosialnya sangat baik
75 – 89 % = perilaku sosialnya baik
65 – 74 % = perilaku sosialnya cukup
55- 64 % = perilaku sosialnya kurang
Kurang dari 55% = sangat kurang
Kesimpulan:
........................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Rekomendasi:
1. Kepada orang tua
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
2. Kepada Lembaga/Kepada Guru
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock Elizabeth B., (1980), Psikologi perkembangan “Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup”, Erlangga, Jakarta.
Santrock John W., (2007), Psikologi Pendidikan, Kencana Media Group, Jakarta.
Copyright © 2010 Nia Hidayati All Rights Reserved
h4md4ni.wordpress.com/perkembang-anak
INSTRUMEN ASESMEN PERKEMBANGAN SOSIAL
III. IDENTITAS SUBYEK
Nama : As
Tanggal lahir : Purwakarta, 20 Desember 2000
Agma : Islam
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 2
Jumlah saudara : 2
IV. Identitas Orang Tua
Nama ayah : Na
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat rumah : Perum BJI Blok B2 No. 26 Purwakarta
Nama ibu : Raudatul.
Pendidikan : SMA
No Aspek Sosial/Perilaku social Kemampuan Ket
Nampak Tidak Nampak
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Meniru
k. Menyenangi hubungan dengan manusia daripada dengan benda
l. Menyukai (menunjukan minat) untuk melihat orang lain bermain
m. Berusaha membuat kontak dengan teman sebaya
n. Berusaha menjadi anggota kelompok (kelompok/geng)
o. Menyenagi hubungan dengan kelompok sejenis
p. Banyak berbicara
q. permainan fantasi (dokter-dokteran)
r. memahami peraan orang lain (dalam kelompok)
s. Menjelajahi lingkungan
t. mempelajari obyek-obyek sekitar
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor
2
8
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2 Persaingan (Kadang terjadi kontak tapi lebih bersifat persaingan)
g. Kemampuan mengungkapkan diri dalam peran tertentu
h. Kemampuan mengendalikan diri (tidak merebut mainan teman)
i. Mengakui kelebihan orang lain (pada peran tertentu)
j. Menghargai dan mengapresiasikan kerja orang lain
k. Menghindari upaya dan cara yang tidak benar, tidak adil dan merugikan orang lain dalam berkompetisi
l. Menjadikan orang lain sebagai partner
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 3 3
3
Kerjasama (Bermain asosiatif dan koopratif)
r. Belajar memecahkan masalah yang dihadapi
s. Mengadakan kegiatan yang menyerupai teman dalam satu kelompok
t. Bermain yang popular (olahraga)
u. Kemampuan bekerja sama
v. Takut dan malu bila bergaul dengan orang lain yang belum dikenal
w. Kecenderungan menampilkan keyakinan diri
x. Kecenderungan untuk memimpin orang lain
y. Kecenderungan untuk menguasai orang lain
z. Bebas dari pengaruh orang lain
aa. Mengambil peran dalam kelompok
ä. Kadang masih berperan sebagai penonton (mengamati cara orang lain berinteraksi)
ö. Menunjukan rasa simpati kepada orang lain
aa. Permainan Unccupied (mengamati sesuatu yang menarik selanjutnya melakukan dengan gerakan yang bebas dalam bentuk tingkahlaku yang tidak terkontrol)
ee. Permainan solitary
(dalam kelompok ttp anak bermain sendiri-sendiri)
ff. Permainan onlooker (anak memperhatikan anak yang lain bermain, anak ikut berbicara ttp dia tdk ikut bermain)
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
V
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
dd. Permainan parallel (bermain dengan alat yang sama ttp anak tdk terjadi kontak antara satu dgn lainnya)
ee. Permainan Assosiative (anak bermain bersama-sama , saling meminjamkan alat ttp tidak ada satu tujuan )
Permainan terorganisir dgn kegiatan konstruktif dan membuat suatu yang nyata , setiap anak mempunyai peran sendiri, permainan ini dipimpin salah seorang atau dua
v
v
Jumlah skor 7 10
4 Empati (Menunjukan rasa empati terhadap orang yang dikenalnya)
g. Berteman dengan teman sebaya
h. Berkomunikasi dengan orang lain di luar rumah/ tetangga
i. Menangis kalau orang yang dikelanya (teman, anggota keluarga) ada yang menangis
j. Merasa iba bila temannya dimarahi
k. Merasa iba bila temannya mendapat permasalahan
l. Memahami peran orang lain
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor
1
5
5
Dukungan sosial (Berusaha mendapat dukungan dari teman dan keluarganya)
d. Menghargai orang lain
e. Dapat memberi dan menerima bantuan orang lain
f. Dibutuhkan oleh teman
v
v
v
Jumlah skor
2
1
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
6 Membagi
h. Meminjamkan mainan kepada orang lain
i. Memberikan makanan kepada orang lain
j. Mampu mengadakan hubungan personal dengan teman (persahabatan)
k. Menunjukan kasih sayang kepada orang lain
l. Menunjukan kasih sayang kepada benda
m. Tukar menukar alat permainan
n. Berbagi makanan
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 2 5
7 Perilaku akrab
f. Menunjukan perasaan sayang terhadap orang-orang tertentu
g. Menunjukan perasaan sayang terhadap benda-benda tertentu
h. Yakin akan kemampuannya dalam bergaul
i. Memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya
j. Mampu memimpin teman-teman dalam kelompok
v
v
v
v
v
Jumlah skor 1 2
Grafik Perkembangan Sosial
Aspek Meniru
No Aspek Sosial/Perilaku social Kemampuan Ket
Nampak Tidak Nampak
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Meniru
a. Menyenangi hubungan dengan manusia daripada dengan benda
b. Menyukai (menunjukan minat) untuk melihat orang lain bermain
c. Berusaha membuat kontak dengan teman sebaya
d. Berusaha menjadi anggota kelompok (kelompok/geng)
e. Menyenagi hubungan dengan kelompok sejenis
f. Banyak berbicara
g. permainan fantasi (dokter-dokteran)
h. memahami peraan orang lain (dalam kelompok)
i. Menjelajahi lingkungan
j. mempelajari obyek-obyek sekitar
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 2 8
Perilaku yang muncul = 2 X 100% = 20%
10
Perilaku yang tidak muncul = 8 X 100% = 80%
10
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Persaingan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2 Persaingan (Kadang terjadi kontak tapi lebih bersifat persaingan)
a. Kemampuan mengungkapkan diri dalam peran tertentu
b. Kemampuan mengendalikan diri (tidak merebut mainan teman)
c. Mengakui kelebihan orang lain (pada peran tertentu)
d. Menghargai dan mengapresiasikan kerja orang lain
e. Menghindari upaya dan cara yang tidak benar, tidak adil dan merugikan orang lain dalam berkompetisi
f. Menjadikan orang lain sebagai partner
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 3 3
Perilaku yang muncul = 3 X 100% = 50%
6
Perilaku yang tidak muncul = 4 X 100% = 50%
6
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Kerja sama
3
Kerjasama (Bermain asosiatif dan koopratif)
a. Belajar memecahkan masalah yang dihadapi
b. Mengadakan kegiatan yang menyerupai teman dalam satu kelompok
c. Bermain yang popular (olahraga)
d. Kemampuan bekerja sama
e. Takut dan malu bila bergaul dengan orang lain yang belum dikenal
f. Kecenderungan menampilkan keyakinan diri
g. Kecenderungan untuk memimpin orang lain
h. Kecenderungan untuk menguasai orang lain
i. Bebas dari pengaruh orang lain
j. Mengambil peran dalam kelompok
k. Kadang masih berperan sebagai penonton (mengamati cara orang lain berinteraksi)
l. Menunjukan rasa simpati kepada orang lain
m. Permainan Unccupied (mengamati sesuatu yang menarik selanjutnya melakukan dengan gerakan yang bebas dalam bentuk tingkahlaku yang tidak terkontrol)
n. Permainan solitary
(dalam kelompok ttp anak bermain sendiri-sendiri)
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
o. Permainan onlooker (anak memperhatikan anak yang lain bermain, anak ikut berbicara ttp dia tdk ikut bermain)
p. Permainan parallel (bermain dengan alat yang sama ttp anak tdk terjadi kontak antara satu dgn lainnya)
q. Permainan Assosiative (anak bermain bersama-sama , saling meminjamkan alat ttp tidak ada satu tujuan )
Permainan terorganisir dgn kegiatan konstruktif dan membuat suatu yang nyata , setiap anak mempunyai peran sendiri, permainan ini dipimpin salah seorang atau dua
v
v
v
Jumlah skor 7 10
Perilaku yang muncul = 7 X 100% = 41,17%
17
Perilaku yang tidak muncul = 10 X 100% = 58,82%
17
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Empati
4 Empati (Menunjukan rasa empati terhadap orang yang dikenalnya)
a. Berteman dengan teman sebaya
b. Berkomunikasi dengan orang lain di luar rumah/ tetangga
c. Menangis kalau orang yang dikelanya (teman, anggota keluarga) ada yang menangis
d. Merasa iba bila temannya dimarahi
e. Merasa iba bila temannya mendapat permasalahan
f. Memahami peran orang lain
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 1 4
Perilaku konsisten = 1 X 100% = 16,6%
6
Perilaku yang tidak muncul= 5 X 100% = 83,3%
6
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidakmuncul
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
5
Dukungan sosial (Berusaha mendapat dukungan dari teman dan keluarganya)
g. Menghargai orang lain
h. Dapat memberi dan menerima bantuan orang lain
i. Dibutuhkan oleh teman
v
v
v
Jumlah skor 2 1
Aspek dukungan sosial
Perilaku yang muncul = 2 X 100% = 66,6%
3
Perilaku yang tidak muncul = 1 X 100% = 33,3%
3
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Membagi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
6 Membagi
a. Meminjamkan mainan kepada orang lain
b. Memberikan makanan kepada orang lain
c. Mampu mengadakan hubungan personal dengan teman (persahabatan)
d. Menunjukan kasih sayang kepada orang lain
e. Menunjukan kasih sayang kepada benda
f. Tukar menukar alat permainan
g. Berbagi makanan
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 2 5
Perilaku yang muncul = 2 X 100% = 28,57%
7
Perilaku yang tidak muncul = 5 X 100% = 71,42%
7
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Perilaku Akrab
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
7 Perilaku akrab
a. Menunjukan perasaan sayang terhadap orang-orang tertentu
b. Menunjukan perasaan sayang terhadap benda-benda tertentu
c. Yakin akan kemampuannya dalam bergaul
d. Memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya
e. Mampu memimpin teman-teman dalam kelompok
v
v
v
v
v
Jumlah skor 1 4
Perilaku konsisten = 1 X 100% = 20%
5
Perilaku yang tidak muncul = 4 X 100% = 80%
5
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Grafik Perkembangan Sosial secara Umum
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
M TM
M TM
M TM
M TM
M TM
M TM
M TM
Meniru Persaingan Kerja
sama Empati Dukungan
Sosial Membagi
Perilaku akrab
M = Muncul
TM = Tidak Muncul
Kesimpulan
Berdasarkan Data tabel serta grafik tersebut diatas maka perkembangan interaksi sosial AS. Adalah:
Aspek meniru Perkembangan yang sudah nampak 20% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 80%, berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Persaingan Perkembangan yang sudah nampak 50% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 50%, berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Kerjasama Perkembangan yang sudah nampak 41,17% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 58,82%, berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Empati Perkembangan yang sudah nampak 83,33% berarti sudah mencapai perkembangan sosial secara umum dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 16,67%.
Dukungan sosial Perkembangan yang nampak 66,6% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 33,3% berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Membagi Perkembangan yang sudah nampak 28,57% berarti belum mencapai perkembangan sosial secara umum dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 71,427%.
Perilaku akrab Perkembangan yang sudah nampak 20% dan perilaku yang tidak nampak 80%, untuk itu perlu stimulasi agar perilaku yang belum muncul dapat dilakukan anak.
Rekomendasi
Ditujukan Kepada orang tua dan lembaga/guru kelas apabila:
Disarankan kepada orang tua dan lembaga/wali kelas agar dapat membantu perkembangan sosial anak yang belum muncul, serta menghilangkan perilaku yang tidak sesuai dengan perkembangan sosial.
ANAK TUNAGRAHITA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mental retardasi (MR) adalah cacat perkembangan yang pertama muncul pada anak di bawah usia 18 tahun. Hal ini didefinisikan sebagai tingkat berfungsi intelektual (sebagaimana diukur oleh tes kecerdasan standar) yang jauh di bawah rata-rata dan hasil dalam keterbatasan yang signifikan dalam keterampilan sehari-hari orang hidup (berfungsi adaptif).
Keterbelakangan mental dimulai di masa kanak-kanak atau remaja sebelum usia 18 tahun. Dalam kebanyakan kasus, tetap ada sepanjang hidup dewasa. Diagnosis keterbelakangan mental dibuat jika seseorang memiliki tingkat intelektual berfungsi jauh di bawah rata-rata, serta keterbatasan yang signifikan dalam dua atau lebih bidang keterampilan adaptif. Tingkat intelektual berfungsi didefinisikan oleh tes standar yang mengukur kemampuan untuk alasan dari segi usia mental (kecerdasan quotient atau IQ).
Keterbelakangan mental didefinisikan sebagai nilai IQ di bawah 70-75. keterampilan adaptif adalah istilah yang mengacu pada keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari. keterampilan tersebut mencakup kemampuan untuk memproduksi dan memahami bahasa (komunikasi); keterampilan rumah-hidup, penggunaan sumber daya masyarakat, kesehatan, keselamatan, waktu luang, perawatan diri, dan keterampilan sosial; diri sendiri arah; keterampilan fungsional akademik (membaca, menulis, dan berhitung), dan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Secara umum, keterbelakangan mental anak-anak mencapai tahap perkembangan seperti berjalan dan berbicara banyak lebih dari anak-anak di populasi umum. Gejala keterbelakangan mental mungkin muncul pada saat lahir atau yang lebih baru di masa kecil. Usia anak saat onset tergantung pada penyebab diduga kecacatan. Beberapa kasus keterbelakangan mental ringan tidak didiagnosis sebelum anak masuk prasekolah atau TK. Anak-anak ini biasanya memiliki kesulitan dengan sosial, komunikasi, dan keterampilan akademik fungsional. Anak-anak yang memiliki gangguan saraf atau penyakit seperti ensefalitis atau meningitis tiba-tiba mungkin menunjukkan tanda-tanda kerusakan kognitif dan kesulitan adaptif.
Keterbelakangan mental bervariasi dalam tingkat keparahan. Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, edisi keempat, revisi teks (DSM-IV-TR), yang merupakan standar diagnostik bagi para profesional perawatan kesehatan mental di Amerika Serikat, mengklasifikasikan empat derajat keterbelakangan mental yang berbeda: ringan, sedang, berat , dan mendalam. Kategori ini didasarkan pada tingkat orang tersebut berfungsi.
Keterbelakangan mental ringan.
Sekitar 85% dari populasi retardasi mental dalam kategori agak terbelakang. IQ mereka berkisar skor 50-70, dan mereka sering dapat memperoleh keterampilan akademik sampai sekitar tingkat kelas enam. Mereka dapat menjadi cukup mandiri dan dalam beberapa kasus hidup mandiri, dengan masyarakat dan dukungan sosial. Sedang mental retardasi
Sekitar 10% dari populasi retardasi mental dianggap cukup terbelakang. Cukup orang terbelakang memiliki skor IQ berkisar 35-55. Mereka dapat melaksanakan pekerjaan dan tugas-tugas perawatan diri dengan pengawasan moderat. Mereka biasanya memperoleh keterampilan komunikasi di masa kecil dan mampu hidup dan fungsi berhasil dalam komunitas di lingkungan diawasi seperti rumah-rumah kelompok.
Keterbelakangan mental yang parah Sekitar 3-4% dari populasi retardasi mental adalah sangat terbelakang. Parah orang terbelakang memiliki skor IQ 20-40. Mereka mungkin menguasai keterampilan perawatan diri sangat mendasar dan beberapa keterampilan komunikasi. Banyak individu sangat terbelakang dapat tinggal di rumah kelompok.
Keterbelakangan mental yang mendalam hanya 1-2% dari populasi retardasi mental diklasifikasikan sebagai sangat terbelakang. Bagi individu terbelakang memiliki nilai IQ di bawah 20-25. Mereka mungkin dapat mengembangkan dasar perawatan diri dan keterampilan komunikasi dengan dukungan dan pelatihan. keterbelakangan mereka sering disebabkan oleh gangguan neurologis yang menyertainya. Bagi orang terbelakang membutuhkan tingkat tinggi struktur dan pengawasan.
American Association Mental Retardasi (AAMR) telah mengembangkan sistem klasifikasi lain diterima secara luas diagnostik untuk keterbelakangan mental. Sistem klasifikasi AAMR berfokus pada kemampuan individu terbelakang bukan pada keterbatasan nya.
Kategori menggambarkan tingkat dukungan yang dibutuhkan. Mereka adalah: dukungan intermiten, dukungan terbatas, dukungan yang luas, dan dukungan meresap. Untuk beberapa hal, klasifikasi AAMR cermin klasifikasi DSM-IV-TR. dukungan terputus, misalnya, adalah dukungan yang diperlukan hanya kadang-kadang, mungkin selama masa stres atau krisis bagi orang yang terbelakang. Ini adalah jenis dukungan biasanya diperlukan untuk kebanyakan orang agak terbelakang. Di ujung lain spektrum, dukungan luas, atau seumur hidup, dukungan setiap hari untuk daerah yang paling adaptif, akan diperlukan untuk orang-orang sangat terbelakang.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara melatih anak tunagrahita agar dapat Merawat Diri Sendiri ?
C. Kegiatan Program Bina Diri
Sesuai dengan klasifikasi anak tunagrahita tersebut di atas maka program layanan pendidikan khusus dapat diprogramkan sebagai berikut:
Ruang lingkup program pendidikan bina diri antara laian:
1. Kebutuhan akan merawat diri
2. Kebutuhan akan mengurus diri
3. Kebutuhan akan menolong diri
4. Kebutuhan akan interaksi sosial
5. Kebutuhan akan berkomunikasi
BAB II
AREA ASESEMEN
A. Pengertian Asesmen
1. Asesmen merupakan sebuah proses pengumpulan informasi yang terus menerus berlangsung untuk mengukur performansi murid dan proses pembelajaran. Asesmen perkembangan dan belajar anak memiliki nilai penting. Tidak hanya mengukur kemajuan anak-anak sebagai bentuk evaluasi program, asesmen juga berguna untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan staf dan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang
2. Asesmen yang tepat berguna untuk membantu anak-anak berkembang secara optimal, baik fisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Asesmen yang tepat juga dapat digunakan untuk mendeteksi keterlambatan-keterlambatan perkembangan atau kebutuhan-kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki anak-anak. Selain itu informasi yang akurat dari sebuah asesmen bermanfaat untuk peningkatan pembelajaran sehingga proses belajar anak-anak membaik dan sebagai informasi bagi para orangtua tentang kemajuan dan hal-hal terkait dengan belajar anak-anak mereka.
3. Berdasarkan pendapat tersebut di atas bahwa asesmen yang tepat merupakan bagian penting dari program evaluasi dan perbaikan terus menerus kualitas program pendidikan yang sudah dirancang. Dalam program pendidikan yang berkualitas, pihak-pihak terkait dengan pendidikan anak menggunakan informasi dari berbagai macam sumber untuk merencanakan dan membuat keputusan-keputusan tentang anak-anak secara individual.
B. Macam-Macam Asesmen
1. Asesmen Perkembangan
Asesmen perkembangan ini meliputi perkembangan: kognitif, motorik, sosial/emosi, dan bahasa/komunikasi
2. Asesmen Akademik
Yang termasuk kedalam asesmen akademik antara lain: asesmen matematik (pra matematik dan matematik), asesmen membaca (pramembaca, membaca awal, membaca lanjut)
C. Asesmen Perkembangan Sosial 9-10 tahun
Perkembangan Sosial
Pengelompokan sosial dan perilaku sosial pada masa akhir anak-anak disebut sebagai usia berkelompok karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai suatu anggota kelompok (Elizabeth B. Hurlock: 1980: 155).
Krech et. al. (1962:104-106) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon interpersonalnya, yang terdiri dari :
(1) Kecenderungan Peranan (Role Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan posisi yang dimiliki seorang individu,
(2) Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain, dan
(3) Ekspressi (Expression Disposition), yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam melakukan asesmen perkembangan sosial anak, untuk mendapatkan gambaran yang nyata dari perilaku sosial anak. Berdasarkan teori di atas maka maka aspek perkembangan sosial dapat kami kembangkan kedalam indikator-indikator sebagai berikutserta:
1. Aspek Sosial yang diamati:
1) Kecenderungan Peranan
b. Meniru
c. Kerjasama
d. Perilaku akrab
2) Kecenderungan Sosiometrik
a. Dukungan sosial
b. Empati
3) Ekspressi
a. Persaingan
b. Membagi
D. Lingkungan sosial yang harus dijadikan tempat pengamatan antara lain:
• Observasi langsung di lingkungan sekolah
• lingkungan keluarga dan atau lingkungan luar rumah/tetangga (dengan angket atau wawancara)
• lingkungan sekolah (dengan cara wawancara atau angket kepada guru kelas)
PENGADMINISTRASIAN
A. Merekap Hasil Asesmen
Catatan hasil observasi yang telah dilaksanakan oleh asesor mulai dari awal sampai akhir, selanjutnya dibuat rekapan agar data dapat dibaca atau dipahami.
1. Pencacatan Hasil Obaservasi
a. Penghitungan skor dilakukan pada setiap aspek perkembangan sosial yang diamati
1) Aspek Meniru = …%
2) Aspek Persaingan = …%
3) Aspek Kerjasama = …%
4) Empati = …%
5) Dukungan Sosial = …%
6) Membagi = …%
7) Perilaku Akrab = …%
Setiap aspek perkembangan hasilnya diprosentasikan dengan rumus:
N = Jumlah perilaku yang muncul X 100%
Jumlah perilaku keseluruhan
Misal: 4 X 100 = 80%
5
Interpretasi:
1. 90 – 100 % = perilaku sosialnya sangat baik
2. 75 – 89 % = perilaku sosialnya baik
3. 65 – 74 % = perilaku sosialnya cukup
4. 55- 64 % = perilaku sosialnya kurang
5. Kurang dari 55% = sangat kurang
b. Setelah diprosentasikan tiap aspek perkembangan kemudian direkap hasil nilai secara keseluruhan.
c. Apa bila skor nilai anak berada antara 64 % sampai dengan 89 % dianggap perilaku sosialnya dianggap normal. Dan seandainya ditemukan anak yang mencapai skor di atas 90 % atau di bawah 64 % maka perlu dites ulang, karena skor tersebut diindikasikan perkembangan sosialnya keluar dari perkembangan milestone sosial anak pada umumnya.
d. Acuan perkembangan sosial yang umum:
Perilaku sosial individu dilihat dari kecenderungan peranan (role disposition) dapat dikatakan memadai, manakala menunjukkan ciri-ciri respons interpersonal sebagai berikut :
(1) memiliki kemampuan dalam bergaul secara sosial;
(2) memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya;
(3) mampu memimpin teman-teman dalam kelompok; dan
(4) tidak mudah terpengaruh orang lain dalam bergaul.
Sebaliknya, perilaku sosial individu dikatakan kurang atau tidak memadai manakala menunjukkan ciri-ciri respons interpersonal sebagai berikut :
(1) kurang mampu bergaul secara sosial;
(2) mudah menyerah dan tunduk pada perlakuan orang lain;
(3) pasif dalam mengelola kelompok; dan
(4) tergantung kepada orang lain bila akan melakukan suatu tindakan.
e. Grafik perkembangan sosialisasi
Nama anak: .....
Aspek Meniru
Perilaku yang Muncul secara konsisten
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Persaingan
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Kerja sama
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Empati
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Dukungan Sosial
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Membagi
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Aspek Perilaku Akrab
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak Muncul
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
Grafik Perkembangan Sosial secara Umum
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
M TM
M TM M TM M TM M TM M TM M TM
Meniru Persaingan Kerja
sama Empati Dukungan
Sosial Membagi Perila
ku akrab
Perilaku sosial yang berlebihan
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna merah.
Perilaku sosial yang umum (milestone)
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna hijau.
Perilaku sosial yang kurang
Apabila aspek perkembangan sosial anak mencapai grade (nilai kelas) yang berwarna ungu.
f. Skrining dilakukan kembali kepada anak yang mendapatkan skor tertinggi dan kepada anak yang mendapat skor terendah karena diperkirakan anak tersebut memiliki perilaku sosial yang menyimpang, dengan maksud untuk mendapatkan data yang akurat. Adapun skrining dilakukan dengan cara:
1. Observasi ulang
2. Wawancara dengan orang tua
3. Wawancara dengan guru
g. Intervensi dilakukan kepada anak-anak yang menunjukan perilaku sosial yang berlebihan dan kepada anak-anak yang diindikasikan perilaku sosialnya dibawah rata-rata.
h. Saran
Ditujukan Kepada orang tua dan guru kelas apabila:
Anak menunjukan perilaku sosial yang berlebihan dan kepada anak-anak yang diindikasikan perilaku sosialnya dibawah rata-rata. Agar dapat membantu perkembangan sosial anak
Lampiran
INSTRUMEN ASESMEN PERKEMBANGAN SOSIAL
I. IDENTITAS SUBYEK
Nama :
Tanggal lahir :
Agma :
Jenis kelamin :
Anak ke :
Jumlah saudara :
II. Identitas Orang Tua
Nama ayah :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat rumah :
Nama ibu :
Pendidikan :
No Aspek Sosial/Perilaku social Kemampuan Ket
Konsisten Berkembang Belum teramati
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Meniru
a. Menyenangi hubungan dengan manusia daripada dengan benda
b. Menyukai (menunjukan minat) untuk melihat orang lain bermain
c. Berusaha membuat kontak dengan teman sebaya
d. Berusaha menjadi anggota kelompok (kelompok/geng)
e. Menyenagi hubungan dengan kelompok sejenis
f. Banyak berbicara
g. permainan fantasi (dokter-dokteran)
h. memahami peraan orang lain (dalam kelompok)
i. Menjelajahi lingkungan
j. mempelajari obyek-obyek sekitar
Jumlah skor
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2 Persaingan (Kadang terjadi kontak tapi lebih bersifat persaingan)
a. Kemampuan mengungkapkan diri dalam peran tertentu
b. Kemampuan mengendalikan diri (tidak merebut mainan teman)
c. Mengakui kelebihan orang lain (pada peran tertentu)
d. Menghargai dan mengapresiasikan kerja orang lain
e. Menghindari upaya dan cara yang tidak benar, tidak adil dan merugikan orang lain dalam berkompetisi
f. Menjadikan orang lain sebagai partner
Jumlah skor
3
Kerjasama (Bermain asosiatif dan koopratif)
a. Belajar memecahkan masalah yang dihadapi
b. Mengadakan kegiatan yang menyerupai teman dalam satu kelompok
c. Bermain yang popular (olahraga)
d. Kemampuan bekerja sama
e. Takut dan malu bila bergaul dengan orang lain yang belum dikenal
f. Kecenderungan menampilkan keyakinan diri
g. Kecenderungan untuk memimpin orang lain
h. Kecenderungan untuk menguasai orang lain
i. Bebas dari pengaruh orang lain
j. Mengambil peran dalam kelompok
k. Kadang masih berperan sebagai penonton (mengamati cara orang lain berinteraksi)
l. Menunjukan rasa simpati kepada orang lain
m. Permainan Unccupied (mengamati sesuatu yang menarik selanjutnya melakukan dengan gerakan yang bebas dalam bentuk tingkahlaku yangtdk terkontrol)
n. Permainan solitary
(dalam kelompok ttp anak bermain sendiri-sendiri)
o. Permainan onlooker (anak memperhatikan anak yang lain bermain, anak ikut berbicara ttp dia tdk ikut bermain)
p. Permainan parallel (bermain dengan alat yang sama ttp anak tdk terjadi kontak antara satu dgn lainnya)
q. Permainan Assosiative (anak bermain bersama-sama , saling meminjamkan alat ttp tidak ada satu tujuan )
Permainan terorganisir dgn kegiatan konstruktif dan membuat suatu yang nyata , setiap anak mempunyai peran sendiri, permainan ini dipimpin salah seorang atau dua
Jumlah skor
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
4 Empati (Menunjukan rasa empati terhadap orang yang dikenalnya)
a. Berteman dengan teman sebaya
b. Berkomunikasi dengan orang lain di luar rumah/ tetangga
c. Menangis kalau orang yang dikelanya (teman, anggota keluarga) ada yang menangis
d. Merasa iba bila temannya dimarahi
e. Merasa iba bila temannya mendapat permasalahan
f. Memahami peran orang lain
Jumlah skor
5 Dukungan sosial (Berusaha mendapat dukungan dari teman dan keluarganya)
a. Menghargai orang lain
b. Dapat memberi dan menerima bantuan orang lain
c. Dibutuhkan oleh teman
Jumlah skor
6 Membagi
a. Meminjamkan mainan kepada orang lain
b. Memberikan makanan kepada orang lain
c. Mampu mengadakan hubungan personal dengan teman (persahabatan)
d. Menunjukan kasih sayang kepada orang lain
e. Menunjukan kasih sayang kepada benda
f. Tukar menukar alat permainan
g. Berbagi makanan
Jumlah skor
7 Perilaku akrab
a. Menunjukan perasaan sayang terhadap orang-orang tertentu
b. Menunjukan perasaan sayang terhadap benda-benda tertentu
c. Yakin akan kemampuannya dalam bergaul
d. Memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya
e. Mampu memimpin teman-teman dalam kelompok
Jumlah skor
Penghitungan Skor aspek perkembangan sosial
1) Aspek Meniru = …%
2) Aspek Persaingan = …%
3) Aspek Kerjasama = …%
4) Empati = …%
5) Dukungan Sosial = …%
6) Membagi = …%
7) Perilaku Akrab = …%
Setiap aspek perkembangan hasilnya diprosentasikan dengan rumus:
N = Jumlah perilaku yang muncul X 100%
Jumlah perilaku keseluruhan
Misal: 4 X 100 = 80%
5
Interpretasi:
90 – 100 % = perilaku sosialnya sangat baik
75 – 89 % = perilaku sosialnya baik
65 – 74 % = perilaku sosialnya cukup
55- 64 % = perilaku sosialnya kurang
Kurang dari 55% = sangat kurang
Kesimpulan:
........................................................................................................................
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Rekomendasi:
1. Kepada orang tua
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
2. Kepada Lembaga/Kepada Guru
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock Elizabeth B., (1980), Psikologi perkembangan “Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup”, Erlangga, Jakarta.
Santrock John W., (2007), Psikologi Pendidikan, Kencana Media Group, Jakarta.
Copyright © 2010 Nia Hidayati All Rights Reserved
h4md4ni.wordpress.com/perkembang-anak
INSTRUMEN ASESMEN PERKEMBANGAN SOSIAL
III. IDENTITAS SUBYEK
Nama : As
Tanggal lahir : Purwakarta, 20 Desember 2000
Agma : Islam
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 2
Jumlah saudara : 2
IV. Identitas Orang Tua
Nama ayah : Na
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat rumah : Perum BJI Blok B2 No. 26 Purwakarta
Nama ibu : Raudatul.
Pendidikan : SMA
No Aspek Sosial/Perilaku social Kemampuan Ket
Nampak Tidak Nampak
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Meniru
k. Menyenangi hubungan dengan manusia daripada dengan benda
l. Menyukai (menunjukan minat) untuk melihat orang lain bermain
m. Berusaha membuat kontak dengan teman sebaya
n. Berusaha menjadi anggota kelompok (kelompok/geng)
o. Menyenagi hubungan dengan kelompok sejenis
p. Banyak berbicara
q. permainan fantasi (dokter-dokteran)
r. memahami peraan orang lain (dalam kelompok)
s. Menjelajahi lingkungan
t. mempelajari obyek-obyek sekitar
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor
2
8
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2 Persaingan (Kadang terjadi kontak tapi lebih bersifat persaingan)
g. Kemampuan mengungkapkan diri dalam peran tertentu
h. Kemampuan mengendalikan diri (tidak merebut mainan teman)
i. Mengakui kelebihan orang lain (pada peran tertentu)
j. Menghargai dan mengapresiasikan kerja orang lain
k. Menghindari upaya dan cara yang tidak benar, tidak adil dan merugikan orang lain dalam berkompetisi
l. Menjadikan orang lain sebagai partner
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 3 3
3
Kerjasama (Bermain asosiatif dan koopratif)
r. Belajar memecahkan masalah yang dihadapi
s. Mengadakan kegiatan yang menyerupai teman dalam satu kelompok
t. Bermain yang popular (olahraga)
u. Kemampuan bekerja sama
v. Takut dan malu bila bergaul dengan orang lain yang belum dikenal
w. Kecenderungan menampilkan keyakinan diri
x. Kecenderungan untuk memimpin orang lain
y. Kecenderungan untuk menguasai orang lain
z. Bebas dari pengaruh orang lain
aa. Mengambil peran dalam kelompok
ä. Kadang masih berperan sebagai penonton (mengamati cara orang lain berinteraksi)
ö. Menunjukan rasa simpati kepada orang lain
aa. Permainan Unccupied (mengamati sesuatu yang menarik selanjutnya melakukan dengan gerakan yang bebas dalam bentuk tingkahlaku yang tidak terkontrol)
ee. Permainan solitary
(dalam kelompok ttp anak bermain sendiri-sendiri)
ff. Permainan onlooker (anak memperhatikan anak yang lain bermain, anak ikut berbicara ttp dia tdk ikut bermain)
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
V
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
dd. Permainan parallel (bermain dengan alat yang sama ttp anak tdk terjadi kontak antara satu dgn lainnya)
ee. Permainan Assosiative (anak bermain bersama-sama , saling meminjamkan alat ttp tidak ada satu tujuan )
Permainan terorganisir dgn kegiatan konstruktif dan membuat suatu yang nyata , setiap anak mempunyai peran sendiri, permainan ini dipimpin salah seorang atau dua
v
v
Jumlah skor 7 10
4 Empati (Menunjukan rasa empati terhadap orang yang dikenalnya)
g. Berteman dengan teman sebaya
h. Berkomunikasi dengan orang lain di luar rumah/ tetangga
i. Menangis kalau orang yang dikelanya (teman, anggota keluarga) ada yang menangis
j. Merasa iba bila temannya dimarahi
k. Merasa iba bila temannya mendapat permasalahan
l. Memahami peran orang lain
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor
1
5
5
Dukungan sosial (Berusaha mendapat dukungan dari teman dan keluarganya)
d. Menghargai orang lain
e. Dapat memberi dan menerima bantuan orang lain
f. Dibutuhkan oleh teman
v
v
v
Jumlah skor
2
1
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
6 Membagi
h. Meminjamkan mainan kepada orang lain
i. Memberikan makanan kepada orang lain
j. Mampu mengadakan hubungan personal dengan teman (persahabatan)
k. Menunjukan kasih sayang kepada orang lain
l. Menunjukan kasih sayang kepada benda
m. Tukar menukar alat permainan
n. Berbagi makanan
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 2 5
7 Perilaku akrab
f. Menunjukan perasaan sayang terhadap orang-orang tertentu
g. Menunjukan perasaan sayang terhadap benda-benda tertentu
h. Yakin akan kemampuannya dalam bergaul
i. Memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya
j. Mampu memimpin teman-teman dalam kelompok
v
v
v
v
v
Jumlah skor 1 2
Grafik Perkembangan Sosial
Aspek Meniru
No Aspek Sosial/Perilaku social Kemampuan Ket
Nampak Tidak Nampak
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Meniru
a. Menyenangi hubungan dengan manusia daripada dengan benda
b. Menyukai (menunjukan minat) untuk melihat orang lain bermain
c. Berusaha membuat kontak dengan teman sebaya
d. Berusaha menjadi anggota kelompok (kelompok/geng)
e. Menyenagi hubungan dengan kelompok sejenis
f. Banyak berbicara
g. permainan fantasi (dokter-dokteran)
h. memahami peraan orang lain (dalam kelompok)
i. Menjelajahi lingkungan
j. mempelajari obyek-obyek sekitar
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 2 8
Perilaku yang muncul = 2 X 100% = 20%
10
Perilaku yang tidak muncul = 8 X 100% = 80%
10
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Persaingan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2 Persaingan (Kadang terjadi kontak tapi lebih bersifat persaingan)
a. Kemampuan mengungkapkan diri dalam peran tertentu
b. Kemampuan mengendalikan diri (tidak merebut mainan teman)
c. Mengakui kelebihan orang lain (pada peran tertentu)
d. Menghargai dan mengapresiasikan kerja orang lain
e. Menghindari upaya dan cara yang tidak benar, tidak adil dan merugikan orang lain dalam berkompetisi
f. Menjadikan orang lain sebagai partner
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 3 3
Perilaku yang muncul = 3 X 100% = 50%
6
Perilaku yang tidak muncul = 4 X 100% = 50%
6
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Kerja sama
3
Kerjasama (Bermain asosiatif dan koopratif)
a. Belajar memecahkan masalah yang dihadapi
b. Mengadakan kegiatan yang menyerupai teman dalam satu kelompok
c. Bermain yang popular (olahraga)
d. Kemampuan bekerja sama
e. Takut dan malu bila bergaul dengan orang lain yang belum dikenal
f. Kecenderungan menampilkan keyakinan diri
g. Kecenderungan untuk memimpin orang lain
h. Kecenderungan untuk menguasai orang lain
i. Bebas dari pengaruh orang lain
j. Mengambil peran dalam kelompok
k. Kadang masih berperan sebagai penonton (mengamati cara orang lain berinteraksi)
l. Menunjukan rasa simpati kepada orang lain
m. Permainan Unccupied (mengamati sesuatu yang menarik selanjutnya melakukan dengan gerakan yang bebas dalam bentuk tingkahlaku yang tidak terkontrol)
n. Permainan solitary
(dalam kelompok ttp anak bermain sendiri-sendiri)
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
o. Permainan onlooker (anak memperhatikan anak yang lain bermain, anak ikut berbicara ttp dia tdk ikut bermain)
p. Permainan parallel (bermain dengan alat yang sama ttp anak tdk terjadi kontak antara satu dgn lainnya)
q. Permainan Assosiative (anak bermain bersama-sama , saling meminjamkan alat ttp tidak ada satu tujuan )
Permainan terorganisir dgn kegiatan konstruktif dan membuat suatu yang nyata , setiap anak mempunyai peran sendiri, permainan ini dipimpin salah seorang atau dua
v
v
v
Jumlah skor 7 10
Perilaku yang muncul = 7 X 100% = 41,17%
17
Perilaku yang tidak muncul = 10 X 100% = 58,82%
17
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Empati
4 Empati (Menunjukan rasa empati terhadap orang yang dikenalnya)
a. Berteman dengan teman sebaya
b. Berkomunikasi dengan orang lain di luar rumah/ tetangga
c. Menangis kalau orang yang dikelanya (teman, anggota keluarga) ada yang menangis
d. Merasa iba bila temannya dimarahi
e. Merasa iba bila temannya mendapat permasalahan
f. Memahami peran orang lain
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 1 4
Perilaku konsisten = 1 X 100% = 16,6%
6
Perilaku yang tidak muncul= 5 X 100% = 83,3%
6
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidakmuncul
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
5
Dukungan sosial (Berusaha mendapat dukungan dari teman dan keluarganya)
g. Menghargai orang lain
h. Dapat memberi dan menerima bantuan orang lain
i. Dibutuhkan oleh teman
v
v
v
Jumlah skor 2 1
Aspek dukungan sosial
Perilaku yang muncul = 2 X 100% = 66,6%
3
Perilaku yang tidak muncul = 1 X 100% = 33,3%
3
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Membagi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
6 Membagi
a. Meminjamkan mainan kepada orang lain
b. Memberikan makanan kepada orang lain
c. Mampu mengadakan hubungan personal dengan teman (persahabatan)
d. Menunjukan kasih sayang kepada orang lain
e. Menunjukan kasih sayang kepada benda
f. Tukar menukar alat permainan
g. Berbagi makanan
v
v
v
v
v
v
v
Jumlah skor 2 5
Perilaku yang muncul = 2 X 100% = 28,57%
7
Perilaku yang tidak muncul = 5 X 100% = 71,42%
7
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Aspek Perilaku Akrab
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
7 Perilaku akrab
a. Menunjukan perasaan sayang terhadap orang-orang tertentu
b. Menunjukan perasaan sayang terhadap benda-benda tertentu
c. Yakin akan kemampuannya dalam bergaul
d. Memiliki pengaruh yang kuat terhadap teman sebaya
e. Mampu memimpin teman-teman dalam kelompok
v
v
v
v
v
Jumlah skor 1 4
Perilaku konsisten = 1 X 100% = 20%
5
Perilaku yang tidak muncul = 4 X 100% = 80%
5
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Muncul Tidak muncul
Grafik Perkembangan Sosial secara Umum
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
M TM
M TM
M TM
M TM
M TM
M TM
M TM
Meniru Persaingan Kerja
sama Empati Dukungan
Sosial Membagi
Perilaku akrab
M = Muncul
TM = Tidak Muncul
Kesimpulan
Berdasarkan Data tabel serta grafik tersebut diatas maka perkembangan interaksi sosial AS. Adalah:
Aspek meniru Perkembangan yang sudah nampak 20% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 80%, berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Persaingan Perkembangan yang sudah nampak 50% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 50%, berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Kerjasama Perkembangan yang sudah nampak 41,17% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 58,82%, berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Empati Perkembangan yang sudah nampak 83,33% berarti sudah mencapai perkembangan sosial secara umum dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 16,67%.
Dukungan sosial Perkembangan yang nampak 66,6% dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 33,3% berarti perkembangan sosial anak belum mencapai perkembangan yang seharusnya.
Membagi Perkembangan yang sudah nampak 28,57% berarti belum mencapai perkembangan sosial secara umum dan perilaku yang harus distimulasi atau diintervensi 71,427%.
Perilaku akrab Perkembangan yang sudah nampak 20% dan perilaku yang tidak nampak 80%, untuk itu perlu stimulasi agar perilaku yang belum muncul dapat dilakukan anak.
Rekomendasi
Ditujukan Kepada orang tua dan lembaga/guru kelas apabila:
Disarankan kepada orang tua dan lembaga/wali kelas agar dapat membantu perkembangan sosial anak yang belum muncul, serta menghilangkan perilaku yang tidak sesuai dengan perkembangan sosial.
Minggu, 29 Agustus 2010
कुए NASTAR
KASTENGEL COKIES
BAHAN:
1. 5 BTR KUNING TELUR
2. 1 BTR PUTIH TELUR
3. 400 GR FALMIA SUPER CAKE/BLU BAND
4. 100 GR ROYAL FALMIA/WISMA
5. 100 GR KEJU TUA/APPLE
6. 700 GR TERIGU KUNCI
KEJU CRRAFT – DISERUT U/ TSBUR
2 BTR KUNING TELUR
1 SM MINYAK GORENG
CARA:
KOCOK FAMILA SC + ROYAL FAMILA + TELUR SAMPAI RATA DAN + KEJU SERUT
LALU +KAN TERIGU DAN ADUK KEMBALI HINGGA RATA DAN MENJADI ADONAN
KEMUDIAN ADONAN DICETAK / DIBENTUK – KEMUDIAN SIAPKAN LOYANG YANG TELAH DIOLESI DENGAN MINYAK LOYANG ATAU MARGARINE
OVEN SAMPAI MATANG
SELAMAT MENCOBA!
NASTAR SPECIAL
BAHAN:
A
1. 5 BTR KUNING TELUR
2. 100 GR GULA HALUS
3. 225 GR GOLDEN FERN/WISMA
4. 75 GR BAKER MIXED BLEND
5. 25 GR SUSU FULL CREAM
6. 75 GR PERMESAN CHEESE
7. 500/650 GR TERIGU KUNCI
U/ISI = SELAI NANAS
U/SEMIR= 3 BTR KUNING TELUR + 6 SM MINYAK
U/TOPPING= KEJU CRAFT/CENGKIH
CARA A:
ADUK/KOCOK SEDANG GOLDEN FERN+BEKER’S MIXED BLEND+GULA HALUS SAMPAI TERCAMPUR RATA
LALU +KAN TELUR DAN ADUK KEMBALI
KEMUDIAN +KAN SUSU FC+TERIGU DAN ADUK KEMBALI SAMPAI TERCAMPUR RATA SAMBIL DI+KAN PERMESAN CHEESE
BAHAN:
B
1. 500 GR NANAS YANG TELAH DIPARUT DAN DI SARING
2. 100/150 GR GULA KASTOR
3. 2 ST TEPUNG KAYU MANIS “NEGRO”
4. 25/50 GR UNSALTED
5. 5 BTR CENGKIH
CARA B:
MASAK NANAS HINGGA AIRNYA BERKURANG
+KAN GULA, LALU ADUK SAMPAI RATA
+KAN TEPUNG KAYU MANIS, ADUK SAMPAI RATA
+KAN UNSALTED, KEMUDIAN ADUK KEMBALI HINGGA KEADAAN SELAI LEMBAB BERMINYAK
PENYELESAIAN:
AMBIL SEDIKIT ADONAN A , PINDAHKAN DAN BERI SEDIKIT ADONAN B.
KEMUDIAN DI BENTUK (BAHAN ISI TIDAK TAMPAK), SIMPAN DI ATAS LOYANG YANG TELAH DISEMIR MENTEGA.
SELANJUTNYA BERI SEMIR DAN TOPPING.
PANGGANGLAH SAMPAI MATANG, ANGKAT DAN DINGINKAN SETELAH DINGIN BARU DIMASUKAN KE DALAM TOPLES (PERUT)
Contoh:
BAHAN:
1. 5 BTR KUNING TELUR
2. 1 BTR PUTIH TELUR
3. 400 GR FALMIA SUPER CAKE/BLU BAND
4. 100 GR ROYAL FALMIA/WISMA
5. 100 GR KEJU TUA/APPLE
6. 700 GR TERIGU KUNCI
KEJU CRRAFT – DISERUT U/ TSBUR
2 BTR KUNING TELUR
1 SM MINYAK GORENG
CARA:
KOCOK FAMILA SC + ROYAL FAMILA + TELUR SAMPAI RATA DAN + KEJU SERUT
LALU +KAN TERIGU DAN ADUK KEMBALI HINGGA RATA DAN MENJADI ADONAN
KEMUDIAN ADONAN DICETAK / DIBENTUK – KEMUDIAN SIAPKAN LOYANG YANG TELAH DIOLESI DENGAN MINYAK LOYANG ATAU MARGARINE
OVEN SAMPAI MATANG
SELAMAT MENCOBA!
NASTAR SPECIAL
BAHAN:
A
1. 5 BTR KUNING TELUR
2. 100 GR GULA HALUS
3. 225 GR GOLDEN FERN/WISMA
4. 75 GR BAKER MIXED BLEND
5. 25 GR SUSU FULL CREAM
6. 75 GR PERMESAN CHEESE
7. 500/650 GR TERIGU KUNCI
U/ISI = SELAI NANAS
U/SEMIR= 3 BTR KUNING TELUR + 6 SM MINYAK
U/TOPPING= KEJU CRAFT/CENGKIH
CARA A:
ADUK/KOCOK SEDANG GOLDEN FERN+BEKER’S MIXED BLEND+GULA HALUS SAMPAI TERCAMPUR RATA
LALU +KAN TELUR DAN ADUK KEMBALI
KEMUDIAN +KAN SUSU FC+TERIGU DAN ADUK KEMBALI SAMPAI TERCAMPUR RATA SAMBIL DI+KAN PERMESAN CHEESE
BAHAN:
B
1. 500 GR NANAS YANG TELAH DIPARUT DAN DI SARING
2. 100/150 GR GULA KASTOR
3. 2 ST TEPUNG KAYU MANIS “NEGRO”
4. 25/50 GR UNSALTED
5. 5 BTR CENGKIH
CARA B:
MASAK NANAS HINGGA AIRNYA BERKURANG
+KAN GULA, LALU ADUK SAMPAI RATA
+KAN TEPUNG KAYU MANIS, ADUK SAMPAI RATA
+KAN UNSALTED, KEMUDIAN ADUK KEMBALI HINGGA KEADAAN SELAI LEMBAB BERMINYAK
PENYELESAIAN:
AMBIL SEDIKIT ADONAN A , PINDAHKAN DAN BERI SEDIKIT ADONAN B.
KEMUDIAN DI BENTUK (BAHAN ISI TIDAK TAMPAK), SIMPAN DI ATAS LOYANG YANG TELAH DISEMIR MENTEGA.
SELANJUTNYA BERI SEMIR DAN TOPPING.
PANGGANGLAH SAMPAI MATANG, ANGKAT DAN DINGINKAN SETELAH DINGIN BARU DIMASUKAN KE DALAM TOPLES (PERUT)
Contoh:
Sabtu, 07 Agustus 2010
Adv KTSP
Kegiatan advokasi KTSP SLB Se-Provinsi Jawa Barat dilakukan oleh guru-guru dan kepala sekolah luar biasa provinsi Jawa Barat bersamaan dengan kegiatan lomba kompetensi kepala sekolah luar biasa se-Jawa Barat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Bumi Asih Jaya - Sukarno Hatta Bandung dilaksanakan oleh Bidang Pendidikan PK/PLK Dinas Provinsi Jawa Barat.
Inilah rekaman kegiatan tersebut
PENGERTIAN INTELEGENSI
KORELASI ANTARA
INTELEGENSI DENGAN PERILAKU ADAPTIF
Disampaikan oleh
OLEH: SARJITA
PENGERTIAN INTELEGENSI
Suryabrata (1982)
Intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi.
Sorenson (1977)
Intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Stern (1953)
Intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya.
Thorndike (lih. Skinner, 1959)
Sebagai seorang tokoh koneksionisme mengemukakan pendapatnya bahwa “ intelegence is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truch or fact”
orang dianggap intelegen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. Untuk memberikan respon yang tepat, individu harus memiliki lebih banyak hubungan stimulus-respon, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalaman yang diperolehnya dan hasil-hasil respon-respon yang lalu.
Terman
memberikan pengertian intelegensi sebagai “ the ability to carry on abstract thinking” (lih. Hariman, 1958). (kemampuan untuk [menangani/melanjutkan] abstrak [adalah] berpikir)
Terman membedakan adanya ability yang berkaitan dengan hal-hal yang kongkrit, dan ability yang berkaitan dengan hal-hal yang abstrak. Individu itu intelegen apabila dapat berpikir secara abstrak dengan baik. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berpikir abstrak, individu yang bersangkutan intelegensinya kurang baik
Freeman (1959)
memandang intelegensi sebagai (1) capacity to integrate experiences, (2) capacity to learn, (3) capacity to perform tasks regarded by psychologist as intellectual, (4) capacity to carry on abstract thinking”. Orang yang intelegen adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman, kemampuan untuk belajar dengan lebih baik, kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual, dan kemampuan untuk berpikir abstrak.
Menurut David Wechsler,
Inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Kesimpulan
Bila ditarik inti dari berbagai pendapat tentang pengertian intelegensi tersebut, mengandung pengertian:
1. Proses berfikir
2. penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi. (beradaptasi)
PERILAKU ADAPTIF
James
• Konsep utama : perilaku manusia digerakkan oleh kepercayaan yang dimiliki. Kepercayaan berkembang menurut prinsip evolusi “survival of the fittest”, yang dipertahankan adalah yang paling dibutuhkan manusia. Melalui proses inilah terbentuk perilaku manusia dan habit.
Teori Evolusi Darwin
• Sebagai seorang dualist yang percaya pada pemisahan mind-body, Darwin mengaplikasikan juga pandangannya ini kepada perkembangan fungsi mental makhluk hidup. Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia.
William James
Dalam pandangan-pandangannya yang lain, tampak jelas bahwa bagi James, proses fisiologis di otak dan di dalam tubuh manusia adalah representasi dari proses mental dan hal ini adalah penentu tingkah laku dan menentukan bagaimana manusia mempersepsikan lingkungan. James juga mengakui adanya proses habituasi yang otomatis dan semakin tidak disadari, meskipun meninggalkan jejak dalam benak manusia. Baginya, proses mind lebih penting daripada elemen-elemen mind itu sendiri. Pandangan ini terwakili dengan jelas dalam teorinya tentang emosi, bersama-sama Carl Lange, yang dikenal sebagai James-Lange Theory.
Aliran Fungsionalisme
• Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respon adalah suatu kesatuan
• Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan sangat membantu pemahaman terhdap fungsi mental.
John Dewey (1859-1952)
• Pandangan utamanya bahwa sebuah aksi psikologis adalah suatu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipecah ke dalam bagian-bagian atau elemen (seperti yang dilakukan oleh strukturalisme). Maka setiap psychological events tidak bisa dipandang sebagai konstruk-konstruk abstrak. Akan lebih bermanfaat apabila difokuskan pada fungsi psy. Events tersebut, yaitu dalam konteksnya sebagai adaptasi manusia. Contoh : anak yang mengulurkan jarinya sebagai respon adanya api dan terbakar.
James Rowland Angell (1867-1949)
• Functional psychology adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan mind and body.
Harvey A. Carr (1873-1954)
• Bagi Carr, aspek penting dari psikologi adalah perilaku adaptif manusia. Ia menjelaskan berbagai fungsi mental manusia (perception, learning, emotion dan thinking ) dengan kerangka berpikir perilaku adaptif manusia.
Kesimpulan
Dari berbagai pendapat para tokoh di atas semuanya mengemukakan bahwa perilaku adaptif/kebutuhaan manusia akan lingkungan sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis atau dipengaruhi oleh mental (mind). Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia.
INTELEGENSI DENGAN PERILAKU ADAPTIF
Disampaikan oleh
OLEH: SARJITA
PENGERTIAN INTELEGENSI
Suryabrata (1982)
Intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi.
Sorenson (1977)
Intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Stern (1953)
Intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya.
Thorndike (lih. Skinner, 1959)
Sebagai seorang tokoh koneksionisme mengemukakan pendapatnya bahwa “ intelegence is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truch or fact”
orang dianggap intelegen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. Untuk memberikan respon yang tepat, individu harus memiliki lebih banyak hubungan stimulus-respon, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalaman yang diperolehnya dan hasil-hasil respon-respon yang lalu.
Terman
memberikan pengertian intelegensi sebagai “ the ability to carry on abstract thinking” (lih. Hariman, 1958). (kemampuan untuk [menangani/melanjutkan] abstrak [adalah] berpikir)
Terman membedakan adanya ability yang berkaitan dengan hal-hal yang kongkrit, dan ability yang berkaitan dengan hal-hal yang abstrak. Individu itu intelegen apabila dapat berpikir secara abstrak dengan baik. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berpikir abstrak, individu yang bersangkutan intelegensinya kurang baik
Freeman (1959)
memandang intelegensi sebagai (1) capacity to integrate experiences, (2) capacity to learn, (3) capacity to perform tasks regarded by psychologist as intellectual, (4) capacity to carry on abstract thinking”. Orang yang intelegen adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman, kemampuan untuk belajar dengan lebih baik, kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual, dan kemampuan untuk berpikir abstrak.
Menurut David Wechsler,
Inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Kesimpulan
Bila ditarik inti dari berbagai pendapat tentang pengertian intelegensi tersebut, mengandung pengertian:
1. Proses berfikir
2. penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi. (beradaptasi)
PERILAKU ADAPTIF
James
• Konsep utama : perilaku manusia digerakkan oleh kepercayaan yang dimiliki. Kepercayaan berkembang menurut prinsip evolusi “survival of the fittest”, yang dipertahankan adalah yang paling dibutuhkan manusia. Melalui proses inilah terbentuk perilaku manusia dan habit.
Teori Evolusi Darwin
• Sebagai seorang dualist yang percaya pada pemisahan mind-body, Darwin mengaplikasikan juga pandangannya ini kepada perkembangan fungsi mental makhluk hidup. Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia.
William James
Dalam pandangan-pandangannya yang lain, tampak jelas bahwa bagi James, proses fisiologis di otak dan di dalam tubuh manusia adalah representasi dari proses mental dan hal ini adalah penentu tingkah laku dan menentukan bagaimana manusia mempersepsikan lingkungan. James juga mengakui adanya proses habituasi yang otomatis dan semakin tidak disadari, meskipun meninggalkan jejak dalam benak manusia. Baginya, proses mind lebih penting daripada elemen-elemen mind itu sendiri. Pandangan ini terwakili dengan jelas dalam teorinya tentang emosi, bersama-sama Carl Lange, yang dikenal sebagai James-Lange Theory.
Aliran Fungsionalisme
• Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respon adalah suatu kesatuan
• Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan sangat membantu pemahaman terhdap fungsi mental.
John Dewey (1859-1952)
• Pandangan utamanya bahwa sebuah aksi psikologis adalah suatu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipecah ke dalam bagian-bagian atau elemen (seperti yang dilakukan oleh strukturalisme). Maka setiap psychological events tidak bisa dipandang sebagai konstruk-konstruk abstrak. Akan lebih bermanfaat apabila difokuskan pada fungsi psy. Events tersebut, yaitu dalam konteksnya sebagai adaptasi manusia. Contoh : anak yang mengulurkan jarinya sebagai respon adanya api dan terbakar.
James Rowland Angell (1867-1949)
• Functional psychology adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan mind and body.
Harvey A. Carr (1873-1954)
• Bagi Carr, aspek penting dari psikologi adalah perilaku adaptif manusia. Ia menjelaskan berbagai fungsi mental manusia (perception, learning, emotion dan thinking ) dengan kerangka berpikir perilaku adaptif manusia.
Kesimpulan
Dari berbagai pendapat para tokoh di atas semuanya mengemukakan bahwa perilaku adaptif/kebutuhaan manusia akan lingkungan sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis atau dipengaruhi oleh mental (mind). Kelompok makhluk hidup yang paling sukses dalam beradaptasi dengan lingkungannya adalah mereka yang memiliki fungsi mental paling tinggi, dalam hal ini adalah manusia.
PENGEMBANGAN RESOURCE CENTER
PENGEMBANGAN RESOURCE CENTER
DI SLB NEGERI PURWAKARTA
JAWA BARAT
OLEH
Een Mardiani
R. Dini Megaswati
Lukman Hakim
Cicih Arningsih
Sarjita
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
1.Pengertian Sekolah Pusat Sumber (Resource Centre)
Pusat Sumber (resource centre) merupakan suatu unit dalam suatu lembaga (khususnya sekolah/universitas/perusahaan) yang berperan mendorong efektifitas serta optimalisasi proses pembelajaran. Dalam penyelenggaraannya, pusat sumber memiliki berbagai fungsi yang meliputi fungsi layanan (seperti layanan media, pelatihan, konsultansi pembelajaran, dll), fungsi pengadaan/pengembangan (poruduksi) media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pembelajaran.
Pada umumnya pusat sumber memiliki misi utama dalam pengembangan layanan pembelajaran, tetapi ada juga yang memfokuskan diri hanya pada satu layanan.
Apapun bentuknya, memang pusat sumber belajar (resource center) adalah lembaga khusus yang dibentuk dalam rangka pengembangan pendidikan khusus/pendidikan inklusif yang dapat dimanfaatkan oleh semua anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, orang tua, keluarga, sekolah umum, sekolah luar biasa, masyarakat, pemerintah, serta pihak lain yang berkepentingan untuk memeperoleh informasi yang seluas-luasnya dan melatih berbagai keterampilan, serta memperoleh berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan berkebutuhan khusus/pendidikan inklusif. (Wasliman 2007 dalam Santoso).
Sedangkan menurut Amuda (2009) bahwa resource center adalah sebuah lembaga yang memberikan bantuan kepada orang-orang berkebutuhan khusus, guru-guru umum, orang tua, Dinas Pendidikan dsb, yang melatih dan menempatkan orang berkebutuhan khusus; yang mengadakan penelaahan terhadap berbagai kebutuhan ABK, yang berfungsi mengakses.
Menurut pendapat tersebut di atas maka dapat kami simpulkan bahwa yang disebut dengan pusat sumber (resource center) adalah lembaga yang memberikan dukungan bagi anak berkebutuhan khusus dalam sistem layanan pendidikan, advokasi, serta aktualisasi diri di manapun anak berada serta layanan terhadap masyarakat dan lembaga lain yang memerlukan.
2. Mengembangkan Peran Sekolah Luar Biasa Sebagai Pusat Sumber
Peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.
Dalam pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tersebut di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidkan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Serta diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Oleh sebab itu pemerintah kabupaten/kota harus menunjuk setiap kecamatan paling sedikit 1 sekolah dasar, 1 sekolah menengah pertama, dan satu sekolah menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. seperti tersebut dalam pasal 1 Permendiknas nomor 70 tahun 2009.
Memperhatikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tersebut di atas, bahwa setiap satuan pendidikan diwajibkan menyelenggarakan pendidikan inklusif. Sebagai sekolah yang menangani pendidikan anak berkebutuhan khusus, sekolah luar biasa yang berdekatan dengan sekolah reguler yang menyelenggarakan layanan pendidikan inklusif, secara otomatis harus dapat memberikan dukungan (support) terhadap sekolah tersebut.
Selanjutnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Bab VII Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus , bahwa Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Oleh sebab itu setiap sekolah luar biasa harus dapat memberikan system dukungan terhadap lembaga pendidikan yang memiliki anak berkebutuhan khusus. (http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/PP17-2010 Lengkap.pdf)
Sebagai kepala sekolah luar biasa yang merangkap sebagai kepala pusat sumber (resource centre) harus dapat berperan sebagai:
1. Koordinator kegiatan pusat sumber (resource center).
2. Motor proses jalannya kegiatan pusat sumber (resource center).
3. Inovator dalam pengembangan layanan pendidikan inklusif.
Unsur-unsur yang harus dikembangkan dalam pusat sumber (resource Centre) adalah:
a. Peranan Pusat Sumber
Peran yang harus dilakukan sebagai pusat sumber (resource center) adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sumber informasi tentang pendidikan khusus/pendidikan layanan khusus.
2. Memberikan bimbingan anak berkebutuhan khusus.
3. Mengadakan kerjasama dengan:
a. Sekolah inklusif
b. Dinas pendidikan kabupaten/kota
c. Dinas pendidikan provinsi
d. Orangtua anak dan dewan sekolah
4. Memfasilitasi pendidikan inklusif dapat berjalan dengan lancar.
5. Melakukan penelitian dan pengembangan tentang pendidikan khusus, pendekatan pembelajaran, hambatan belajar dan hambatan perkembangan.
6. Memberikan bantuan asesmen dan intervensi terhadap anak berkebutuhan khusus .
b. Fungsi dan Tugas Pusat Sumber
Fungsi pusat sumber sebenarnya sudah melekat pada arti resource centre, yaitu sebagai lembaga khusus yang dibentuk dalam rangka pengembangan pendidikan khusus dan pendidikan inklusif yang dapat dimanfaatkan oleh semua anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, orang tua, keluarga, sekolah umum, sekolah luar biasa, masyarakat, pemerintah, dan pihak lain yang berkepentingan.
Adapun fungsi dan tugas pusat sumber adalah:
1. Melaksanakan penjaringan anak berkebutuhan khusus, selanjutnya dari hasil penjaringan dibuat rencana penempatan dan pelayanan pendidikannya.
2. Memberikan bimbingan dan latihan terhadap orang tua dalam keikutsertaan pada proses pendidikan anaknya, sehingga program latihan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus dapat bersinergi dengan kegiatan di rumah.
3. Memberikan latihan kepada guru sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusif.
4. Memberikan bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki permasalahan.
5. Memberikan advokasi yaitu berupa pemberian layanan informasi dan layanan perlindungan terhadap hak anak berkebutuhan khusus.
6. Mengadaptasi kurikulum bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.
7. Merumuskan strategi pembelajaran di sekolah inklusif
8. Pelatihan guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif dapat dilakukan dengan cara:
a. Memberikan tugas belajar bagi guru pembimbing khusus maupun guru sekolah inklusif.
b. Menyelenggarakan pelatihan yang berkesinambungan mengenai layanan pendidikan inklusif.
c. Mengirimkan guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif ke berbagai seminar dan lokakarya.
d. Melatih guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif dalam penggunaan media pembelajaran elektronik.
9. Pengaturan jadual Guru Pembimbing Khusus.
Perlu dipahami bersama bahwa guru pembimbing khusus selain bertugas sebagai tenaga di pusat sumber (resource centre) juga mempunyai tugas sebagai konsultan di sekolah umum.
Serangkaian tugas guru pembimbing khusus yang harus dilaksankan antara lain:
a. Guru pembimbing khusus minimal satu kali dalam seminggu mengunjungi sekolah inklusif.
b. Mengidentifikasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
c. Merancang program kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan anak melalui kerjasama dengan guru kelas inklusif, dan orang tua anak.
d. Memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada guru sekolah inklusif, orang tua/keluarga, maupun kepada masyarakat melalui seminar-seminar dan lokakarya.
e. Mengadakan penelitian dan pengembangan pendidikan.
f. Membantu merencanakan pelaksanaan pendidikan yang ramah bagi anak.
g. Melaksanakan kerjasama antar sekolah inklusif dengan pusat sumber.
10. Merumuskan Manajemen Pusat Sumber
Manajemen adalah proses pengelolaan sumber daya untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, atau penggunaan sumber daya untuk mencapai sasaran. Agar proses dapat berjalan secara efektif maka diperlukan seorang manajer/orang yg memimpin dan mengatur pekerjaan dalam bidangnya serta yang berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana dan mengendalikan pelaksanaannya hingga mencapai target yang telah ditetapkan. (Kamus Umum Bahasa Indonesia 909-910:2008).
Agar pusat sumber dapat mengoptimalkan proses lebih efektif dalam mencapai sasaran, maka diperlukan :
a. Pemimpin yang berkualitas
b. Visi, misi, dan tujuan yang jelas agar arah perjalan organisasi tidak menyimpang.
c. Tenaga yang professional sehingga manajemen mutu/kualitas dapat dipertanggungjawabkan.
d. Tim kerja yang solid/kompak.
e. Kepercayaan diri dalam melakukan kegiatan.
f. Kepekaan tehadap kebutuhan/permasalahan di lapangan
c. Struktur Organisasi Pusat Sumber
B. Rumusan Masalahan
Dalam mengembangkan sekolah sebagi pusat sumber penulis rumuskan permasalahan ini sebagai berikut:
1. Apakah sekolah luar biasa Negeri Purwakarta sekarang sudah dapat berperan sebagai pusat sumber (Resource Center) pendidikan inklusif?
2. Fungsi apa saja yang telah dilaksanakan pusat sumber (Resource Center) SLB Negeri Purwakarta?
Pertanyaan Penelitian
Dalam mengembangkan sekolah sebagi pusat sumber kami rumuskan permasalahan ini sebagai berikut:
1.Sudahkah Resource Centre Kabupaten Purwakarta melakukan pendataan terhadap anak berkebutuhan khusus?
2.Berapa kali Resource Centre Kabupaten Purwakarta mengadakan pendataan?
3.Sudah berapa wilayah kecamatan yang dilakukan pendataan?
4.Berapa anak anak berkebutuhan khusus yang sudah terdata?
5.Apakah lembaga yang bapak/ibu pimpin sudah melakukan pelatihan (bagi tenaga pendidik dan kependidikan) dalam rangka persiapan pelaksanaan layanan pendidikan inklusif?
6.Kendala apa saja yang dialami dalam melaksanakan pelatihan?
7.Sudahkah melakukan penelitian dan penelaahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus?
8.Pernahkah melakukan penelitian dan pengembangan tentang metode dan strategi mengajar yang adaptif pada setiap individu?
9.Hambatan perkembangan apa saja yang dilayani di SLB Negeri Purwakarta?
10.Kapan seharusnya asesmen itu dilakukan?
11.Apa tujuan dilaksanaknya asesmen itu?
12.Bagaimana cara untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan anak-anak dalam hal pelajaran di kelas ini?
13.Apakah ada alat asesmen yang dipakai untuk mengasesmen anak?
14.Apa yang dimaksud dengan intervensi dini itu?
15.Ada berapa anak di SLB Negeri Purwakarta ini yang tergolong autis?
16.Dari sekian banyak anak autis di SLB Negeri Purwakarta ini berapa anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi?
17.Bagaimana cara melakukan hubungan dengan anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi?
18.Sudahkah melakukan jejaring (networking) dengan berbagai pihak?
19.Bila sudah, dengan pihak mana saja?
20.Dalam merancang perencanaan sarana dan prasarana sekolah apakah sudah memperhatikan lingkungan pendidikan yang ramah bagi setiap anak?
21.Alat bantu mengajar apa saja yang pernah dibuat di resource centre?
22.Apakah sudah melakukan advokasi terhadap anak berkebutuhan khusus melalui media masa?
23.Apakah sudah melaksanakan pelatihan untuk guru-guru pembimbing khusus?
24.Apakah sudah menyediakan dan mengatur penempatan guru pembimbing khusus?
25.Apakah sudah melakukan layanan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus?
26.Jika sudah melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus, vokasional apa saja?
27.Sudahkah melakukan penempatan kerja terhadap anak berkebutuhan khusus yang telah diberikan pelatihan vokasional?
28.Apakah manajemen Resource Centre sudah terpisah dengan mannajem sekolah?
29.Sumber daya manusia di SLB ini kualifikasi pendidikannya apa saja?
30.Sarana dan prasarana apa saja yang sudah ada di lembaga ini?
31.Bagaimana cara mendapatkan sumber dana untuk pengelolaan Resource Centre?
32.Hambatan apa saja yang ditemui dalam penyelenggaraan Resource Centre?
33.Apakah dalam penyelenggaraan Resource Centre sudah memenuhi harapan?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk: “Mengungkap strategi, peran, dan fungsi dalam pengembangan SLB sebagai pusat sumber (Resource Center) pendukung pendidikan inklusif (support system )”.
D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Hasil rancangan ini diharapkan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan ke-PLB-an, khususnya dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil rancangan ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan/meningkatkan peran SLB Negeri Purwakarta menjadi pusat sumber (Resource Center) pendidikan inklusif.
BAB II
HASIL STUDI LAPANGAN
Observasi yang dilakukan kelompok III di SLB Negeri Purwakarta dilakukan dengan cara:
a. Observasi langsung terhadap:
1. Lingkungan fisik sekolah:
1.1 Luas tanah : 5000 m2
1.2 Jumlah bangunan : 7 bangunan sekolah dan 1 bangunan RC.
1.3 Jumlah ruang kelas: 14 ruang (ukuran 4m X 6m)
2. Fasilitas/sumber belajar: Ruang perpustakaan, ruang SIM, ruang hearing aid, alat olah raga, alat fisio teraphy.
3. Demografi:
3.1 Jumlah siswa : 150 siswa
3.2 Jumlah guru : 25 orang
3.3 Jumlah TU : 5 orang
Tabel 1
DATA TENAGA PENDIDIK
NO NAMA KWUALFIKASI PENDIDIKAN TAHUN LULUS
1 Dra. Kartika S1 PLB 1986
2 Usep sofyan,S.Pd.S1 PLB 2009
3 Rosad.i, S.Pd S1 PLB 1997
4 Dra. Erli Kuntari S1 PLB 1989
5 Dra. Lely Rahmawati S1 PLB 1990
6 Drs. Sarjita S1 PLB 1990
7 Srimulyani, S.Pd. S1 PLB 1998
8 Dra. Ani renaningtyas S1 PLB 1991
9 Drs. Sudirman S1 PLB 1993
10 Dra. Rana Agni Bukit S1 PLB 1989
11 Ima Teguh Trisnawati,S.Pd.S1 PLB 1998
12 Heni Handayani, S.Pd. S1 PLB 2003
13 H. Suharni, S.Pd. S1 PLB 2008
14 Saeful Rohmat, S.Pd. S1 PLB 1994
15 Agus Iswandi, S.Pd. S1 PLB 1994
16 Dwi Hamidah Maskuroh,S.Pd.S1 PLB 2008
17 Ani Hariyati, S.Pd. S1 PLB 2004
18 Rikrik, S.Pd. S1 PLB 2007
19 Chatmi Lutfi, S.Ag. S1 PAI 2002
20 Rita Nurhana, S.Ag. S1 PAI 2005
21 Dedeh Maulidah SGPLB 1994
22 Lia Eliana SPG 1985
23 Dede Sadiah MA 1986
24 Mulyana SMA 2003
25 Rd. Rahmawati, S.Pd. S1 PLB 2004
STAF TENAGA KEPENDIDIKAN
NO NAMA KWUALFIKASI PENDIDIKAN TAHUN LULUS
1 Lastri Handayani D3 Adm.N 1993
2 Martiningrum SMK 2006
3 Rahayu Efendi SLTP 1993
4 Idris SLTA 2005
5 Nana Suryana SD 1970
b. Wawancara
Data yang diperoleh melalui wawancara dilaporkan dengan menggunakan tabel.
Tabel 3
HASIL WAWANCARA
NO URAIAN DATA LAPANGAN
1. Sudah kah Resource Centre Kabupaten Purwakarta melakukan pendataan anak berkebutuhan khusus? sudah
2. Jika belum, apa alasannya? -
3.Jika sudah, berapa kali Resource Centre Kabupaten Purwakarta mengadakan pendataan? 2 kali
4. Sudah berapa wilayah kecamatan yang dilakukan pendataan? Yang pertama 6 kecamatan,Yang kedua 8 kecamatan
5. Berapa anak berkebutuhan khusus yang sudah terdata?
1.Yang pertama rata-rata 15 anak per kecamatan pada usia sekolah
2.Yang kedua rata-rata 20 anak per kecamatan pada usia sekolah
6. Apakah lembaga ini sudah melakukan pelatihan (bagi tenaga pendidik dan kependidikan) dalam rangka persiapan pelaksanaan layanan pendidikan inklusif? Belum
7. Kalau sudah, pelatihan apa yang telah diselenggarakan?
Sudah dilaksanakan oleh dinas pendidikan provinsi
8. Apakah ada kendala Resource Centre kalau melaksanakan Pelatihan tenaga inklusif?
Sumber daya manusianya belum memiliki kompetensi
10. Sudahkah melakukan penelitian dan penelaahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan Penelaahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan
anak berkebutuhan khusus?
anak berkebutuhan khusus masih diperuntukkan bagi sekolah sendiri
11. Pernahkah melakukan penelitian dan pengembangan tentang metode dan strategi mengajar yang adaptif pada setiap individu?
Belum
12. Hambatan perkembangan apa saja yang dilayani di SLB Negeri Purwakarta? Semua jenis kelainan keduali tunalaras
13. Kapan seharusnya asesmen itu dilakukan? •
Awal siswa masuk sekolah sebelum menjalankan program pembelajaran bagi anak
14. Apa tujuandi laksanaknya asesmen itu?
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anak sehingga menunjang
kepada program pembelajaran yang akan diberikan
15. Bagaimana cara untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan anak-anak dalam hal pelajaran di kelas ini?
Dengan evaluasi, analisis evaluasi, asesmen
16. Apakah ada alat asesmen yang dipakai untuk mengasesmen anak?
Alat asesmen yang terstruktur belum ada.
Asesmen yang dilakukan berdasarkan observasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari
17. Apa yang dimaksud dengan intervensi dini itu?
Campur tangan seawall mungkin (rata-rata responden tidak bisa memberikan jawaban)
18. Ada berapa anak di SLB Negeri Purwakarta ini yang tergolong autis? 12 anak
19. Dari sekian banyak anak autis di SLB Negeri Purwakarta ini berapa anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi? 8
20. Bagaimana cara melakukan hubungan dengan anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi? Interaksi dan komunikasi secara individual
21. Sudahkah melakukan jejaring (networking) dengan berbagai pihak? Sudah
22. Bila sudah, dengan pihak mana saja?
Dias pendidikan kabupaten, sekolah regular, psikolog, dewan sekolah, UPI cab.
Purwakarta, dinas social
23. Dalam merancang perencanaan sarana-dan prasarana sekolah apakah sudah
memperhatikan lingkungan pendidikan yang ramah bagi setiap anak?
Sudah tetapi masih sebagian seperti jalan untuk kursi roda
24. Alat bantu mengajar apa saja yang pernah dibuat?
1.Puzzle
2.Balo-balok
3.Kartu kata/huruf
25. Apakah sudah melakukan advokasi terhadap anak berkebutuhan khusus melalui media
masa?
Sudah tetapi masih berupa tayangan berbagai kegiatan anak, serta liputan
even-even khusus
26. Jika belum apa alasannya? -
27. Apakah sudah melaksanakan kursus-kursus keahlian untuk guru-guru pembimbing
khusus?
Sudah tetapi dengan jalam mengirim ke lembaga lain seperti: modeling, Pelatihan
cara menangani anak autis, tat arias, menjahit
28. Jika belum pernah melakukan kursus apa alasannya? -
29. Apakah sudah menyediakan dan mengatur penempatan guru pembimbing khusus?
Sudah
30. Jika belum apa alasannya? -
31. Apakah sudah melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus?
Sudah
32. Jika belum melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus apa
alasannya? -
33. Jika sudah melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus, vokasional
apa saja?
seperti: otomotif, tata rias, menjahit, tata boga
34. Sudahkah melakukan penempatan terhadap anak berkebutuhan khusus yang telah
diberikan pelatihan vokasional? Belum
35. Jika belum apa alasannya?
Belum memiliki kerjasama dengan pihak lembaga pekerjaan
36. Apakah menejemen Resource Centre sudah terpisah dengan menejem sekolah?
Belum
37. Jika belum apa alasannya? Belum memiliki tenaga ahli
38. Sumber daya manusia di SLB ini kualifikasi pendidikannya apa saja?
S1 PLB, SGPLB, PAI, SPG
39. Sarana dan prasarana apa saja yang sudah ada di lembaga ini?
Sarana fisik 7 bagunan terdiri dari ruang belajar, ruang resource centre, ruang
audiometric, ruang SIM, alat music, perpustakaan, ruang bengkel, ruang tatarias,
ruang tata boga, alat-alat fisioteraphy
40. Bagaimana cara mendapatkan sumber dana untuk pengelolaan Resource Centre?
Dana stimulant dari dinas pendidikan
41. Hambatan apa saja yang ditemui dalam penyelenggaraan Resource Centre?
Belum adanya tenaga yang berkompeten
Belum ada tenaga yang khusus menangani RC.
42. Apakah dalam penyelenggaraan Resource Centre sudah memenuhi harapan? Belum
43. Jika belum, apa sebabnya?
Belum mempunyai sistem majemen yang berkualitas
BAB III
ANALISIS DATA
Setelah kita amati dari hasil observasi dengan peran resource centre maka dapat kami simpulkan.
HASIL OBSEVASI DI SLB NEGERI PURWAKARTA
NO. PERAN DAN FUNGSI RESOURCE CENTRE HASIL OBSERVASI
1. Sumber informasi tentang pendidikan khusus/
pendidikan layanan khusus. Terbukti
2. Membimbing anak berkebutuhan khusus Terbukti
3. Mengadakan kerjasama Terbukti
4. Memfasilitasi pendidikan inklusif dapat
berjalan dengan lancar Terbukti
5. Melakukan penelitian dan pengembangan Belum
6. Memberikan bantuan asesmen dan intervensi terhadap anak
berkebutuhan khusus . Terbukti/belum
maksimal
7. Penjaringan anak berkebutuhan khusus terbukti
8. Memberikan bimbingan dan latihan terhadap orang tua dalam
keikutsertaanya pada proses pendidikan anaknya Belum
9. Memberikan latihan guru sekolah regular penyelenggara
pendidikan inklusif, Belum
10. Memberikan bimbingan khusus bagi anak berkebutuhan khusus
yang memiliki permasalahan terbukti
11. Memberikan advokasi yaitu berupa pemberian layanan informasi
dan layanan pembelaan terhadap hak anak berkebutuhan khusus. insidentil
12. Mengadaptasi kurikulum bagi anak berkebutuhan Kusus
di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif. Belum
13. Merumuskan strategi pembelajaran di sekolah inklusif Belum
14. Pelatihan Guru Pembimbing Khusus dan guru sekolah inklusif
Untuk meningkatkan kompetensi dapat dilakukan dengan cara:
a.Mengadakan tugas belajar bagi guru Terbukti
b.pembimbing khusus maupun guru sekolah inklusif. Terbukti
c.Pelatihan yang berkesimabungan oleh dinas
d.Mengirimkan guru pembimbing khusus dan guru
sekolah inklusif ke berbagai seminar dan lokakarya sda
yang diselenggarakan oleh pihak lain.
e.Melatih guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif blm
cara penggunaan media pembelajaran elektronik.
15. Pengaturan jadual Guru Pembimbing Khusus untuk:
a.Guru pembimbing khusus minimal satu kali mengunjungi Belum
sekolah inklusif dalam seminggu.
b.Mengidentifikasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Belum
c.Merancang program kurikulum yang disesuaikan dengan
kebutuhan anak dengan bekerjasama dengan guru kelas inklusif,
dan orang tua anak. Belum
d.Memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada guru
sekolah inklusif, orang tua/keluarga, maupun sosialisasi
kepada masyarakat melalui seminar-seminar dan lokakarya. baru sebagian
e.Mengadakan penelitian yang berhubungaan dengan kependidikan. Belum
f.Membantu merencanakan pelaksanaan pendidikan yang ramah bagi
anak seperti: perubahan lingkungan sekolah yang mengakses
terhadap kepentingan anak, membantu pengelolaan kelas,
membantu dalam penempatan kelas bagi anak, dan sebagainya. Belum
g.Melaksanakan kerjasama antar sekolah inklusif,
sekolah pusat sumber dan dinas pendidikan kabupaten/kota
maupun dinas provinsi. Sudah
16. Merumuskan Manajemen Pusat Sumber Belum
ANALISIS DATA
PERAN DAN FUNGSI YANG TELAH DILAKSANAKAN
NO URAIAN PERAN DAN FUNGSI PERAN DAN FUNGSI YANG DILAKSANAKAN
1. Sumber informasi tentang pendidikan khusus/pendidikan layanan
khusus.
•Melakukan koodinasi dengan SD inklusif
•Mensosialisasikan pendidikan inklusif dengan UPI PGSD Kab. Purwakarta
•Publikasi dengan media cetak dan elektronik
•Memberikan bimbingan bagi orang tua abk/masyarakat
2. Membimbing anak berkebutuhan khusus
•Melakukan bimbingan bagi abk yang bermasalah
•Bimbingan vokasional
•Bimbingan kegiatan belajar di SD inklusif
3. Mengadakan kerjasama
•Kerjasama dengan:
SD Inklusif, dinas pendidikan kab., dinas sosial dan tenaga kerja, psikolog,
UPI PGSD, organisasi profesi, organisasi olah raga, dewan sekolah,
pemda kabupaten, dinas kesehatan
4. Memfasilitasi pendidikan inklusif dapat berjalan dengan lancar
•Memberikan konsultasi terhadap guru SD inklusif dalam pembelajaran,
•Mefasilitasi untuk memperoleh beasiswa bagi abk,
5. Penjaringan anak berkebutuhan khusus
•Yang pertama 6 kecamatan (@ 15 abk usia sekolah 2003)
•Yang kedua 8 kecamatan (@ 20 abk usia sekolah)
6. Memberikan bimbingan khusus bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki
permasalahan
•Memberikan bimbingan terhadap abk yang berselisih dengan teman alumni,
•Memberikan pembinaan terhadap anak dalam kasus penipuan
7. Memberikan bantuan asesmen dan intervensi terhadap anak berkebutuhan khusus
.Terbukti tetapi belum maksimal
8. Pelatihan Guru Pembimbing Khusus dan guru sekolah inklusif
Untuk meningkatkan kompetensi dapat dilakukan dengan cara:
a.Mengadakan tugas belajar bagi guru
b.Pelatihan yang berkesimabungan yang dilaksanakan oleh dinas pendidikan
propinsi.
Deskripsi:
Berdasarkan perbandingan antara peran dan fungsi resource centre yang dirumuskan dengan data yang diperoleh di lapangan terhadap peran dan fungsi resource centre di SLB Negeri Purwakarta adalah sebagai berikut:
Peran dan fungsi resource centre yang sudah dilaksanakan adalah 8 dari 25 item = 8/25 X 100% = 32% .
Sedangkan Peran dan fungsi resource centre yang yang belum terlaksanakan adalah 17/25 X 100% = 68%.
Jadi berdasarkan fakta tersebut peran dan fungsi resource centre SLB Negeri Purwakarta belum dapat berjalan sebagaimana mestinya, untuk itu SLB Negeri Purwakarta masih sangat perlu untuk dikembangkan peran dan fungsinya sebagai lembaga Resource Centre.
Dikarenakan peran dan fungsi resource centre yang berjalan baru sekitar sepertiga dari peran dan fungsi yang telah diprogramkan maka dapat kami ilustrasikan tentang keunggulan dan kelemahan kondisi pusat sumber (resource centre) SLB Negeri Purwakarta, keunggulan dan kelemahan tersebut antara lain :
1. Keunggulan:
a. Tenaga pendidik mayoritas berkualifikasi S 1 PLB
b. 3 Tenaga Kependid sedang melesaikan pendidikan S1 PLB
c. Program kerjasama sudah lengkap
d. Sarana dan Prasarana cukup menunjang
e. Media Pembelajaran kondisinya baik
2. Kelemahan:
a. Tenaga pendidik belum semua atensi terhadap Resource centre
b. Program kerja belum maksimal
c. Program kerjasama belum terjadualkan
d. Pembiayaan belum rutin masih bersifat stimulan dari pemerintah
BAB IV
REKOMENDASI
PENGEMBANGAN PUSAT SUMBER PENDIDIKAN INKLUSIF
Sesuai dengan tugas seorang pendidik bahwa anak-anak yang memiliki hambatan harus dipandang oleh semua sebagai hak dan tanggungjawab bersama. Serta berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif maka setiap lembaga sekolah luar biasa di lingkungan sekolah reguler harus menjadi pusat sumber, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Bab VII Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus , bahwa Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Oleh sebab itu setiap sekolah luar biasa harus dapat memberikan sistem dukungan terhadap lembaga pendidikan yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
Untuk itu kami menberikan rekomendasi sebagai berikut:
1. Sekolah Luar Biasa Negeri Purwakarta yang telah diberi fasilitas gedung oleh pemerintah sebagai resource centre agar meningkatkan peran dan fungsinya untuk pendidikan inklusif.
2. Sekolah Luar Biasa Negeri Purwakarta dapat meningkatkan layanan konsultasi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan khusus.
3. Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta dan Dinas Provinsi Jawa Barat agar menempatkan tenaga terampil dibidang pendidikan khusus serta melengkapi fasilitas resource centre yang sangat dibutuhkan di lapangan.
4. Guru dan tenaga resource centre agar meningkatkan kompetensi terutama di bidang layanan pendidikan inklusif.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdurrmahman, (1996), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta. Depdibud Dirjen Dikti PPPG.
Agustiyawati., (2007), Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Bagi Tuna Netra di Indonesia, [Online] Tersedia: http://agustiyawati.blogspot.com/. Accessed:
Amuda Heryanto (2009), Pedoman Resourcece Centre: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Bidang Pendidikan Luar Biasa.
Budi Santoso, (2009), Pengertian Resource Center support Lists[endif]: http://budisantoso.blogspot.com/. Budi Santoso, (2009), Pengertian Resource Center support Lists[endif]: http://budisantoso.blogspot.com/..
Departemen Pendidikan Nasional, (2003). Standar Pelayanan Minimal Sekolah Luar Biasa, Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional,(2005), Perangkat Untuk Mengembangkan Lingkungan Inklusif, Ramah Terhadap Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Depdiknas.
Hidayat Saeful, (2007), Makalah Substansi, Sekolah Luar Biasa Negeri Pajajaran, Bandung.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, (2009), Rapat Koordinasi Pendidikan Inklusif dan Resource centre, Bumi Makmur Indah, Lembang.
Agustiyawati., (2007), Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Bagi Tuna Netra di Indonesia, [Online] Tersedia: http://agustiyawati.blogspot.com/. Accessed: October 26.
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/PP17-2010Lengkap.pdf, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 17 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, 2010.
DI SLB NEGERI PURWAKARTA
JAWA BARAT
OLEH
Een Mardiani
R. Dini Megaswati
Lukman Hakim
Cicih Arningsih
Sarjita
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
1.Pengertian Sekolah Pusat Sumber (Resource Centre)
Pusat Sumber (resource centre) merupakan suatu unit dalam suatu lembaga (khususnya sekolah/universitas/perusahaan) yang berperan mendorong efektifitas serta optimalisasi proses pembelajaran. Dalam penyelenggaraannya, pusat sumber memiliki berbagai fungsi yang meliputi fungsi layanan (seperti layanan media, pelatihan, konsultansi pembelajaran, dll), fungsi pengadaan/pengembangan (poruduksi) media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pembelajaran.
Pada umumnya pusat sumber memiliki misi utama dalam pengembangan layanan pembelajaran, tetapi ada juga yang memfokuskan diri hanya pada satu layanan.
Apapun bentuknya, memang pusat sumber belajar (resource center) adalah lembaga khusus yang dibentuk dalam rangka pengembangan pendidikan khusus/pendidikan inklusif yang dapat dimanfaatkan oleh semua anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, orang tua, keluarga, sekolah umum, sekolah luar biasa, masyarakat, pemerintah, serta pihak lain yang berkepentingan untuk memeperoleh informasi yang seluas-luasnya dan melatih berbagai keterampilan, serta memperoleh berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan berkebutuhan khusus/pendidikan inklusif. (Wasliman 2007 dalam Santoso).
Sedangkan menurut Amuda (2009) bahwa resource center adalah sebuah lembaga yang memberikan bantuan kepada orang-orang berkebutuhan khusus, guru-guru umum, orang tua, Dinas Pendidikan dsb, yang melatih dan menempatkan orang berkebutuhan khusus; yang mengadakan penelaahan terhadap berbagai kebutuhan ABK, yang berfungsi mengakses.
Menurut pendapat tersebut di atas maka dapat kami simpulkan bahwa yang disebut dengan pusat sumber (resource center) adalah lembaga yang memberikan dukungan bagi anak berkebutuhan khusus dalam sistem layanan pendidikan, advokasi, serta aktualisasi diri di manapun anak berada serta layanan terhadap masyarakat dan lembaga lain yang memerlukan.
2. Mengembangkan Peran Sekolah Luar Biasa Sebagai Pusat Sumber
Peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.
Dalam pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tersebut di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidkan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Serta diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Oleh sebab itu pemerintah kabupaten/kota harus menunjuk setiap kecamatan paling sedikit 1 sekolah dasar, 1 sekolah menengah pertama, dan satu sekolah menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. seperti tersebut dalam pasal 1 Permendiknas nomor 70 tahun 2009.
Memperhatikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tersebut di atas, bahwa setiap satuan pendidikan diwajibkan menyelenggarakan pendidikan inklusif. Sebagai sekolah yang menangani pendidikan anak berkebutuhan khusus, sekolah luar biasa yang berdekatan dengan sekolah reguler yang menyelenggarakan layanan pendidikan inklusif, secara otomatis harus dapat memberikan dukungan (support) terhadap sekolah tersebut.
Selanjutnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Bab VII Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus , bahwa Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Oleh sebab itu setiap sekolah luar biasa harus dapat memberikan system dukungan terhadap lembaga pendidikan yang memiliki anak berkebutuhan khusus. (http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/PP17-2010 Lengkap.pdf)
Sebagai kepala sekolah luar biasa yang merangkap sebagai kepala pusat sumber (resource centre) harus dapat berperan sebagai:
1. Koordinator kegiatan pusat sumber (resource center).
2. Motor proses jalannya kegiatan pusat sumber (resource center).
3. Inovator dalam pengembangan layanan pendidikan inklusif.
Unsur-unsur yang harus dikembangkan dalam pusat sumber (resource Centre) adalah:
a. Peranan Pusat Sumber
Peran yang harus dilakukan sebagai pusat sumber (resource center) adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sumber informasi tentang pendidikan khusus/pendidikan layanan khusus.
2. Memberikan bimbingan anak berkebutuhan khusus.
3. Mengadakan kerjasama dengan:
a. Sekolah inklusif
b. Dinas pendidikan kabupaten/kota
c. Dinas pendidikan provinsi
d. Orangtua anak dan dewan sekolah
4. Memfasilitasi pendidikan inklusif dapat berjalan dengan lancar.
5. Melakukan penelitian dan pengembangan tentang pendidikan khusus, pendekatan pembelajaran, hambatan belajar dan hambatan perkembangan.
6. Memberikan bantuan asesmen dan intervensi terhadap anak berkebutuhan khusus .
b. Fungsi dan Tugas Pusat Sumber
Fungsi pusat sumber sebenarnya sudah melekat pada arti resource centre, yaitu sebagai lembaga khusus yang dibentuk dalam rangka pengembangan pendidikan khusus dan pendidikan inklusif yang dapat dimanfaatkan oleh semua anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, orang tua, keluarga, sekolah umum, sekolah luar biasa, masyarakat, pemerintah, dan pihak lain yang berkepentingan.
Adapun fungsi dan tugas pusat sumber adalah:
1. Melaksanakan penjaringan anak berkebutuhan khusus, selanjutnya dari hasil penjaringan dibuat rencana penempatan dan pelayanan pendidikannya.
2. Memberikan bimbingan dan latihan terhadap orang tua dalam keikutsertaan pada proses pendidikan anaknya, sehingga program latihan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus dapat bersinergi dengan kegiatan di rumah.
3. Memberikan latihan kepada guru sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusif.
4. Memberikan bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki permasalahan.
5. Memberikan advokasi yaitu berupa pemberian layanan informasi dan layanan perlindungan terhadap hak anak berkebutuhan khusus.
6. Mengadaptasi kurikulum bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.
7. Merumuskan strategi pembelajaran di sekolah inklusif
8. Pelatihan guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif dapat dilakukan dengan cara:
a. Memberikan tugas belajar bagi guru pembimbing khusus maupun guru sekolah inklusif.
b. Menyelenggarakan pelatihan yang berkesinambungan mengenai layanan pendidikan inklusif.
c. Mengirimkan guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif ke berbagai seminar dan lokakarya.
d. Melatih guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif dalam penggunaan media pembelajaran elektronik.
9. Pengaturan jadual Guru Pembimbing Khusus.
Perlu dipahami bersama bahwa guru pembimbing khusus selain bertugas sebagai tenaga di pusat sumber (resource centre) juga mempunyai tugas sebagai konsultan di sekolah umum.
Serangkaian tugas guru pembimbing khusus yang harus dilaksankan antara lain:
a. Guru pembimbing khusus minimal satu kali dalam seminggu mengunjungi sekolah inklusif.
b. Mengidentifikasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
c. Merancang program kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan anak melalui kerjasama dengan guru kelas inklusif, dan orang tua anak.
d. Memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada guru sekolah inklusif, orang tua/keluarga, maupun kepada masyarakat melalui seminar-seminar dan lokakarya.
e. Mengadakan penelitian dan pengembangan pendidikan.
f. Membantu merencanakan pelaksanaan pendidikan yang ramah bagi anak.
g. Melaksanakan kerjasama antar sekolah inklusif dengan pusat sumber.
10. Merumuskan Manajemen Pusat Sumber
Manajemen adalah proses pengelolaan sumber daya untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, atau penggunaan sumber daya untuk mencapai sasaran. Agar proses dapat berjalan secara efektif maka diperlukan seorang manajer/orang yg memimpin dan mengatur pekerjaan dalam bidangnya serta yang berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana dan mengendalikan pelaksanaannya hingga mencapai target yang telah ditetapkan. (Kamus Umum Bahasa Indonesia 909-910:2008).
Agar pusat sumber dapat mengoptimalkan proses lebih efektif dalam mencapai sasaran, maka diperlukan :
a. Pemimpin yang berkualitas
b. Visi, misi, dan tujuan yang jelas agar arah perjalan organisasi tidak menyimpang.
c. Tenaga yang professional sehingga manajemen mutu/kualitas dapat dipertanggungjawabkan.
d. Tim kerja yang solid/kompak.
e. Kepercayaan diri dalam melakukan kegiatan.
f. Kepekaan tehadap kebutuhan/permasalahan di lapangan
c. Struktur Organisasi Pusat Sumber
B. Rumusan Masalahan
Dalam mengembangkan sekolah sebagi pusat sumber penulis rumuskan permasalahan ini sebagai berikut:
1. Apakah sekolah luar biasa Negeri Purwakarta sekarang sudah dapat berperan sebagai pusat sumber (Resource Center) pendidikan inklusif?
2. Fungsi apa saja yang telah dilaksanakan pusat sumber (Resource Center) SLB Negeri Purwakarta?
Pertanyaan Penelitian
Dalam mengembangkan sekolah sebagi pusat sumber kami rumuskan permasalahan ini sebagai berikut:
1.Sudahkah Resource Centre Kabupaten Purwakarta melakukan pendataan terhadap anak berkebutuhan khusus?
2.Berapa kali Resource Centre Kabupaten Purwakarta mengadakan pendataan?
3.Sudah berapa wilayah kecamatan yang dilakukan pendataan?
4.Berapa anak anak berkebutuhan khusus yang sudah terdata?
5.Apakah lembaga yang bapak/ibu pimpin sudah melakukan pelatihan (bagi tenaga pendidik dan kependidikan) dalam rangka persiapan pelaksanaan layanan pendidikan inklusif?
6.Kendala apa saja yang dialami dalam melaksanakan pelatihan?
7.Sudahkah melakukan penelitian dan penelaahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus?
8.Pernahkah melakukan penelitian dan pengembangan tentang metode dan strategi mengajar yang adaptif pada setiap individu?
9.Hambatan perkembangan apa saja yang dilayani di SLB Negeri Purwakarta?
10.Kapan seharusnya asesmen itu dilakukan?
11.Apa tujuan dilaksanaknya asesmen itu?
12.Bagaimana cara untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan anak-anak dalam hal pelajaran di kelas ini?
13.Apakah ada alat asesmen yang dipakai untuk mengasesmen anak?
14.Apa yang dimaksud dengan intervensi dini itu?
15.Ada berapa anak di SLB Negeri Purwakarta ini yang tergolong autis?
16.Dari sekian banyak anak autis di SLB Negeri Purwakarta ini berapa anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi?
17.Bagaimana cara melakukan hubungan dengan anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi?
18.Sudahkah melakukan jejaring (networking) dengan berbagai pihak?
19.Bila sudah, dengan pihak mana saja?
20.Dalam merancang perencanaan sarana dan prasarana sekolah apakah sudah memperhatikan lingkungan pendidikan yang ramah bagi setiap anak?
21.Alat bantu mengajar apa saja yang pernah dibuat di resource centre?
22.Apakah sudah melakukan advokasi terhadap anak berkebutuhan khusus melalui media masa?
23.Apakah sudah melaksanakan pelatihan untuk guru-guru pembimbing khusus?
24.Apakah sudah menyediakan dan mengatur penempatan guru pembimbing khusus?
25.Apakah sudah melakukan layanan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus?
26.Jika sudah melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus, vokasional apa saja?
27.Sudahkah melakukan penempatan kerja terhadap anak berkebutuhan khusus yang telah diberikan pelatihan vokasional?
28.Apakah manajemen Resource Centre sudah terpisah dengan mannajem sekolah?
29.Sumber daya manusia di SLB ini kualifikasi pendidikannya apa saja?
30.Sarana dan prasarana apa saja yang sudah ada di lembaga ini?
31.Bagaimana cara mendapatkan sumber dana untuk pengelolaan Resource Centre?
32.Hambatan apa saja yang ditemui dalam penyelenggaraan Resource Centre?
33.Apakah dalam penyelenggaraan Resource Centre sudah memenuhi harapan?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk: “Mengungkap strategi, peran, dan fungsi dalam pengembangan SLB sebagai pusat sumber (Resource Center) pendukung pendidikan inklusif (support system )”.
D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Hasil rancangan ini diharapkan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan ke-PLB-an, khususnya dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil rancangan ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan/meningkatkan peran SLB Negeri Purwakarta menjadi pusat sumber (Resource Center) pendidikan inklusif.
BAB II
HASIL STUDI LAPANGAN
Observasi yang dilakukan kelompok III di SLB Negeri Purwakarta dilakukan dengan cara:
a. Observasi langsung terhadap:
1. Lingkungan fisik sekolah:
1.1 Luas tanah : 5000 m2
1.2 Jumlah bangunan : 7 bangunan sekolah dan 1 bangunan RC.
1.3 Jumlah ruang kelas: 14 ruang (ukuran 4m X 6m)
2. Fasilitas/sumber belajar: Ruang perpustakaan, ruang SIM, ruang hearing aid, alat olah raga, alat fisio teraphy.
3. Demografi:
3.1 Jumlah siswa : 150 siswa
3.2 Jumlah guru : 25 orang
3.3 Jumlah TU : 5 orang
Tabel 1
DATA TENAGA PENDIDIK
NO NAMA KWUALFIKASI PENDIDIKAN TAHUN LULUS
1 Dra. Kartika S1 PLB 1986
2 Usep sofyan,S.Pd.S1 PLB 2009
3 Rosad.i, S.Pd S1 PLB 1997
4 Dra. Erli Kuntari S1 PLB 1989
5 Dra. Lely Rahmawati S1 PLB 1990
6 Drs. Sarjita S1 PLB 1990
7 Srimulyani, S.Pd. S1 PLB 1998
8 Dra. Ani renaningtyas S1 PLB 1991
9 Drs. Sudirman S1 PLB 1993
10 Dra. Rana Agni Bukit S1 PLB 1989
11 Ima Teguh Trisnawati,S.Pd.S1 PLB 1998
12 Heni Handayani, S.Pd. S1 PLB 2003
13 H. Suharni, S.Pd. S1 PLB 2008
14 Saeful Rohmat, S.Pd. S1 PLB 1994
15 Agus Iswandi, S.Pd. S1 PLB 1994
16 Dwi Hamidah Maskuroh,S.Pd.S1 PLB 2008
17 Ani Hariyati, S.Pd. S1 PLB 2004
18 Rikrik, S.Pd. S1 PLB 2007
19 Chatmi Lutfi, S.Ag. S1 PAI 2002
20 Rita Nurhana, S.Ag. S1 PAI 2005
21 Dedeh Maulidah SGPLB 1994
22 Lia Eliana SPG 1985
23 Dede Sadiah MA 1986
24 Mulyana SMA 2003
25 Rd. Rahmawati, S.Pd. S1 PLB 2004
STAF TENAGA KEPENDIDIKAN
NO NAMA KWUALFIKASI PENDIDIKAN TAHUN LULUS
1 Lastri Handayani D3 Adm.N 1993
2 Martiningrum SMK 2006
3 Rahayu Efendi SLTP 1993
4 Idris SLTA 2005
5 Nana Suryana SD 1970
b. Wawancara
Data yang diperoleh melalui wawancara dilaporkan dengan menggunakan tabel.
Tabel 3
HASIL WAWANCARA
NO URAIAN DATA LAPANGAN
1. Sudah kah Resource Centre Kabupaten Purwakarta melakukan pendataan anak berkebutuhan khusus? sudah
2. Jika belum, apa alasannya? -
3.Jika sudah, berapa kali Resource Centre Kabupaten Purwakarta mengadakan pendataan? 2 kali
4. Sudah berapa wilayah kecamatan yang dilakukan pendataan? Yang pertama 6 kecamatan,Yang kedua 8 kecamatan
5. Berapa anak berkebutuhan khusus yang sudah terdata?
1.Yang pertama rata-rata 15 anak per kecamatan pada usia sekolah
2.Yang kedua rata-rata 20 anak per kecamatan pada usia sekolah
6. Apakah lembaga ini sudah melakukan pelatihan (bagi tenaga pendidik dan kependidikan) dalam rangka persiapan pelaksanaan layanan pendidikan inklusif? Belum
7. Kalau sudah, pelatihan apa yang telah diselenggarakan?
Sudah dilaksanakan oleh dinas pendidikan provinsi
8. Apakah ada kendala Resource Centre kalau melaksanakan Pelatihan tenaga inklusif?
Sumber daya manusianya belum memiliki kompetensi
10. Sudahkah melakukan penelitian dan penelaahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan Penelaahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan
anak berkebutuhan khusus?
anak berkebutuhan khusus masih diperuntukkan bagi sekolah sendiri
11. Pernahkah melakukan penelitian dan pengembangan tentang metode dan strategi mengajar yang adaptif pada setiap individu?
Belum
12. Hambatan perkembangan apa saja yang dilayani di SLB Negeri Purwakarta? Semua jenis kelainan keduali tunalaras
13. Kapan seharusnya asesmen itu dilakukan? •
Awal siswa masuk sekolah sebelum menjalankan program pembelajaran bagi anak
14. Apa tujuandi laksanaknya asesmen itu?
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anak sehingga menunjang
kepada program pembelajaran yang akan diberikan
15. Bagaimana cara untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan anak-anak dalam hal pelajaran di kelas ini?
Dengan evaluasi, analisis evaluasi, asesmen
16. Apakah ada alat asesmen yang dipakai untuk mengasesmen anak?
Alat asesmen yang terstruktur belum ada.
Asesmen yang dilakukan berdasarkan observasi dalam melaksanakan tugas sehari-hari
17. Apa yang dimaksud dengan intervensi dini itu?
Campur tangan seawall mungkin (rata-rata responden tidak bisa memberikan jawaban)
18. Ada berapa anak di SLB Negeri Purwakarta ini yang tergolong autis? 12 anak
19. Dari sekian banyak anak autis di SLB Negeri Purwakarta ini berapa anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi? 8
20. Bagaimana cara melakukan hubungan dengan anak yang mengalami gangguan interaksi dan komunikasi? Interaksi dan komunikasi secara individual
21. Sudahkah melakukan jejaring (networking) dengan berbagai pihak? Sudah
22. Bila sudah, dengan pihak mana saja?
Dias pendidikan kabupaten, sekolah regular, psikolog, dewan sekolah, UPI cab.
Purwakarta, dinas social
23. Dalam merancang perencanaan sarana-dan prasarana sekolah apakah sudah
memperhatikan lingkungan pendidikan yang ramah bagi setiap anak?
Sudah tetapi masih sebagian seperti jalan untuk kursi roda
24. Alat bantu mengajar apa saja yang pernah dibuat?
1.Puzzle
2.Balo-balok
3.Kartu kata/huruf
25. Apakah sudah melakukan advokasi terhadap anak berkebutuhan khusus melalui media
masa?
Sudah tetapi masih berupa tayangan berbagai kegiatan anak, serta liputan
even-even khusus
26. Jika belum apa alasannya? -
27. Apakah sudah melaksanakan kursus-kursus keahlian untuk guru-guru pembimbing
khusus?
Sudah tetapi dengan jalam mengirim ke lembaga lain seperti: modeling, Pelatihan
cara menangani anak autis, tat arias, menjahit
28. Jika belum pernah melakukan kursus apa alasannya? -
29. Apakah sudah menyediakan dan mengatur penempatan guru pembimbing khusus?
Sudah
30. Jika belum apa alasannya? -
31. Apakah sudah melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus?
Sudah
32. Jika belum melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus apa
alasannya? -
33. Jika sudah melakukan vokasional terhadap anak berkebutuhan khusus, vokasional
apa saja?
seperti: otomotif, tata rias, menjahit, tata boga
34. Sudahkah melakukan penempatan terhadap anak berkebutuhan khusus yang telah
diberikan pelatihan vokasional? Belum
35. Jika belum apa alasannya?
Belum memiliki kerjasama dengan pihak lembaga pekerjaan
36. Apakah menejemen Resource Centre sudah terpisah dengan menejem sekolah?
Belum
37. Jika belum apa alasannya? Belum memiliki tenaga ahli
38. Sumber daya manusia di SLB ini kualifikasi pendidikannya apa saja?
S1 PLB, SGPLB, PAI, SPG
39. Sarana dan prasarana apa saja yang sudah ada di lembaga ini?
Sarana fisik 7 bagunan terdiri dari ruang belajar, ruang resource centre, ruang
audiometric, ruang SIM, alat music, perpustakaan, ruang bengkel, ruang tatarias,
ruang tata boga, alat-alat fisioteraphy
40. Bagaimana cara mendapatkan sumber dana untuk pengelolaan Resource Centre?
Dana stimulant dari dinas pendidikan
41. Hambatan apa saja yang ditemui dalam penyelenggaraan Resource Centre?
Belum adanya tenaga yang berkompeten
Belum ada tenaga yang khusus menangani RC.
42. Apakah dalam penyelenggaraan Resource Centre sudah memenuhi harapan? Belum
43. Jika belum, apa sebabnya?
Belum mempunyai sistem majemen yang berkualitas
BAB III
ANALISIS DATA
Setelah kita amati dari hasil observasi dengan peran resource centre maka dapat kami simpulkan.
HASIL OBSEVASI DI SLB NEGERI PURWAKARTA
NO. PERAN DAN FUNGSI RESOURCE CENTRE HASIL OBSERVASI
1. Sumber informasi tentang pendidikan khusus/
pendidikan layanan khusus. Terbukti
2. Membimbing anak berkebutuhan khusus Terbukti
3. Mengadakan kerjasama Terbukti
4. Memfasilitasi pendidikan inklusif dapat
berjalan dengan lancar Terbukti
5. Melakukan penelitian dan pengembangan Belum
6. Memberikan bantuan asesmen dan intervensi terhadap anak
berkebutuhan khusus . Terbukti/belum
maksimal
7. Penjaringan anak berkebutuhan khusus terbukti
8. Memberikan bimbingan dan latihan terhadap orang tua dalam
keikutsertaanya pada proses pendidikan anaknya Belum
9. Memberikan latihan guru sekolah regular penyelenggara
pendidikan inklusif, Belum
10. Memberikan bimbingan khusus bagi anak berkebutuhan khusus
yang memiliki permasalahan terbukti
11. Memberikan advokasi yaitu berupa pemberian layanan informasi
dan layanan pembelaan terhadap hak anak berkebutuhan khusus. insidentil
12. Mengadaptasi kurikulum bagi anak berkebutuhan Kusus
di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif. Belum
13. Merumuskan strategi pembelajaran di sekolah inklusif Belum
14. Pelatihan Guru Pembimbing Khusus dan guru sekolah inklusif
Untuk meningkatkan kompetensi dapat dilakukan dengan cara:
a.Mengadakan tugas belajar bagi guru Terbukti
b.pembimbing khusus maupun guru sekolah inklusif. Terbukti
c.Pelatihan yang berkesimabungan oleh dinas
d.Mengirimkan guru pembimbing khusus dan guru
sekolah inklusif ke berbagai seminar dan lokakarya sda
yang diselenggarakan oleh pihak lain.
e.Melatih guru pembimbing khusus dan guru sekolah inklusif blm
cara penggunaan media pembelajaran elektronik.
15. Pengaturan jadual Guru Pembimbing Khusus untuk:
a.Guru pembimbing khusus minimal satu kali mengunjungi Belum
sekolah inklusif dalam seminggu.
b.Mengidentifikasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Belum
c.Merancang program kurikulum yang disesuaikan dengan
kebutuhan anak dengan bekerjasama dengan guru kelas inklusif,
dan orang tua anak. Belum
d.Memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada guru
sekolah inklusif, orang tua/keluarga, maupun sosialisasi
kepada masyarakat melalui seminar-seminar dan lokakarya. baru sebagian
e.Mengadakan penelitian yang berhubungaan dengan kependidikan. Belum
f.Membantu merencanakan pelaksanaan pendidikan yang ramah bagi
anak seperti: perubahan lingkungan sekolah yang mengakses
terhadap kepentingan anak, membantu pengelolaan kelas,
membantu dalam penempatan kelas bagi anak, dan sebagainya. Belum
g.Melaksanakan kerjasama antar sekolah inklusif,
sekolah pusat sumber dan dinas pendidikan kabupaten/kota
maupun dinas provinsi. Sudah
16. Merumuskan Manajemen Pusat Sumber Belum
ANALISIS DATA
PERAN DAN FUNGSI YANG TELAH DILAKSANAKAN
NO URAIAN PERAN DAN FUNGSI PERAN DAN FUNGSI YANG DILAKSANAKAN
1. Sumber informasi tentang pendidikan khusus/pendidikan layanan
khusus.
•Melakukan koodinasi dengan SD inklusif
•Mensosialisasikan pendidikan inklusif dengan UPI PGSD Kab. Purwakarta
•Publikasi dengan media cetak dan elektronik
•Memberikan bimbingan bagi orang tua abk/masyarakat
2. Membimbing anak berkebutuhan khusus
•Melakukan bimbingan bagi abk yang bermasalah
•Bimbingan vokasional
•Bimbingan kegiatan belajar di SD inklusif
3. Mengadakan kerjasama
•Kerjasama dengan:
SD Inklusif, dinas pendidikan kab., dinas sosial dan tenaga kerja, psikolog,
UPI PGSD, organisasi profesi, organisasi olah raga, dewan sekolah,
pemda kabupaten, dinas kesehatan
4. Memfasilitasi pendidikan inklusif dapat berjalan dengan lancar
•Memberikan konsultasi terhadap guru SD inklusif dalam pembelajaran,
•Mefasilitasi untuk memperoleh beasiswa bagi abk,
5. Penjaringan anak berkebutuhan khusus
•Yang pertama 6 kecamatan (@ 15 abk usia sekolah 2003)
•Yang kedua 8 kecamatan (@ 20 abk usia sekolah)
6. Memberikan bimbingan khusus bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki
permasalahan
•Memberikan bimbingan terhadap abk yang berselisih dengan teman alumni,
•Memberikan pembinaan terhadap anak dalam kasus penipuan
7. Memberikan bantuan asesmen dan intervensi terhadap anak berkebutuhan khusus
.Terbukti tetapi belum maksimal
8. Pelatihan Guru Pembimbing Khusus dan guru sekolah inklusif
Untuk meningkatkan kompetensi dapat dilakukan dengan cara:
a.Mengadakan tugas belajar bagi guru
b.Pelatihan yang berkesimabungan yang dilaksanakan oleh dinas pendidikan
propinsi.
Deskripsi:
Berdasarkan perbandingan antara peran dan fungsi resource centre yang dirumuskan dengan data yang diperoleh di lapangan terhadap peran dan fungsi resource centre di SLB Negeri Purwakarta adalah sebagai berikut:
Peran dan fungsi resource centre yang sudah dilaksanakan adalah 8 dari 25 item = 8/25 X 100% = 32% .
Sedangkan Peran dan fungsi resource centre yang yang belum terlaksanakan adalah 17/25 X 100% = 68%.
Jadi berdasarkan fakta tersebut peran dan fungsi resource centre SLB Negeri Purwakarta belum dapat berjalan sebagaimana mestinya, untuk itu SLB Negeri Purwakarta masih sangat perlu untuk dikembangkan peran dan fungsinya sebagai lembaga Resource Centre.
Dikarenakan peran dan fungsi resource centre yang berjalan baru sekitar sepertiga dari peran dan fungsi yang telah diprogramkan maka dapat kami ilustrasikan tentang keunggulan dan kelemahan kondisi pusat sumber (resource centre) SLB Negeri Purwakarta, keunggulan dan kelemahan tersebut antara lain :
1. Keunggulan:
a. Tenaga pendidik mayoritas berkualifikasi S 1 PLB
b. 3 Tenaga Kependid sedang melesaikan pendidikan S1 PLB
c. Program kerjasama sudah lengkap
d. Sarana dan Prasarana cukup menunjang
e. Media Pembelajaran kondisinya baik
2. Kelemahan:
a. Tenaga pendidik belum semua atensi terhadap Resource centre
b. Program kerja belum maksimal
c. Program kerjasama belum terjadualkan
d. Pembiayaan belum rutin masih bersifat stimulan dari pemerintah
BAB IV
REKOMENDASI
PENGEMBANGAN PUSAT SUMBER PENDIDIKAN INKLUSIF
Sesuai dengan tugas seorang pendidik bahwa anak-anak yang memiliki hambatan harus dipandang oleh semua sebagai hak dan tanggungjawab bersama. Serta berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif maka setiap lembaga sekolah luar biasa di lingkungan sekolah reguler harus menjadi pusat sumber, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Bab VII Penyelenggaraan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus , bahwa Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Oleh sebab itu setiap sekolah luar biasa harus dapat memberikan sistem dukungan terhadap lembaga pendidikan yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
Untuk itu kami menberikan rekomendasi sebagai berikut:
1. Sekolah Luar Biasa Negeri Purwakarta yang telah diberi fasilitas gedung oleh pemerintah sebagai resource centre agar meningkatkan peran dan fungsinya untuk pendidikan inklusif.
2. Sekolah Luar Biasa Negeri Purwakarta dapat meningkatkan layanan konsultasi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan khusus.
3. Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta dan Dinas Provinsi Jawa Barat agar menempatkan tenaga terampil dibidang pendidikan khusus serta melengkapi fasilitas resource centre yang sangat dibutuhkan di lapangan.
4. Guru dan tenaga resource centre agar meningkatkan kompetensi terutama di bidang layanan pendidikan inklusif.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdurrmahman, (1996), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta. Depdibud Dirjen Dikti PPPG.
Agustiyawati., (2007), Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Bagi Tuna Netra di Indonesia, [Online] Tersedia: http://agustiyawati.blogspot.com/. Accessed:
Amuda Heryanto (2009), Pedoman Resourcece Centre: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Bidang Pendidikan Luar Biasa.
Budi Santoso, (2009), Pengertian Resource Center support Lists[endif]: http://budisantoso.blogspot.com/. Budi Santoso, (2009), Pengertian Resource Center support Lists[endif]: http://budisantoso.blogspot.com/..
Departemen Pendidikan Nasional, (2003). Standar Pelayanan Minimal Sekolah Luar Biasa, Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional,(2005), Perangkat Untuk Mengembangkan Lingkungan Inklusif, Ramah Terhadap Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Depdiknas.
Hidayat Saeful, (2007), Makalah Substansi, Sekolah Luar Biasa Negeri Pajajaran, Bandung.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, (2009), Rapat Koordinasi Pendidikan Inklusif dan Resource centre, Bumi Makmur Indah, Lembang.
Agustiyawati., (2007), Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Pelaksanaan Program Pendidikan Terpadu (Integrasi) Bagi Tuna Netra di Indonesia, [Online] Tersedia: http://agustiyawati.blogspot.com/. Accessed: October 26.
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/PP17-2010Lengkap.pdf, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 17 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, 2010.
Langganan:
Komentar (Atom)